Pencarian

Mahasiswa KIP-K UMBY Bagikan Strategi Kelola Biaya Hidup: Catat Arus Keuangan hingga Aturan Jeda 7 Hari

Minggu, 16 Agustus 2026 • 09:28:31 WIB
Mahasiswa KIP-K UMBY Bagikan Strategi Kelola Biaya Hidup: Catat Arus Keuangan hingga Aturan Jeda 7 Hari
Mahasiswa penerima KIP-K UMBY, Haninnaja Kevina Shenaya, menunjukkan aktivitas pencatatan keuangan di gawainya di Yogyakarta, Sabtu (tanggal).

YOGYAKARTA — Ekspektasi Haninnaja Kevina Shenaya tentang beban biaya kuliah ternyata meleset. Sebelum diterima sebagai mahasiswa UMBY lewat jalur Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), ia mengira SPP dan uang gedung akan menjadi pengeluaran terbesar. Faktanya, setelah menjalani perkuliahan, kebutuhan operasional harian dan penunjang tugas justru lebih banyak menyedot dana bantuan tersebut.

Menurut mahasiswa yang akrab disapa Hanin ini, kunci bertahan adalah menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak mudah tergoda perilaku konsumtif khas anak muda.

"Keinginan untuk ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama," kata Hanin di Yogyakarta, Sabtu.

Dua Strategi Menghindari Jebakan Finansial

Untuk memastikan uang bantuan tidak bocor di tengah bulan, Hanin menerapkan dua strategi utama. Pertama, ia membiasakan diri mencatat arus keuangan setiap transaksi melalui aplikasi di ponsel agar pengeluarannya selalu terpantau.

Kedua, ia menerapkan aturan yang disebutnya "Jeda Tujuh Hari". Setiap ada keinginan membeli barang non-esensial, ia menundanya selama sepekan. Jika setelah tujuh hari keinginan itu hilang, berarti barang tersebut memang tidak benar-benar dibutuhkan.

Tekanan IPK Jadi Bahan Bakar Motivasi

Alih-alih terbebani syarat mempertahankan beasiswa dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2,75, Hanin justru menjadikan tekanan itu sebagai motivasi untuk lebih disiplin mengatur waktu belajar. Hasilnya, pada semester empat ia berhasil meraih IPK 3,88.

Di sela kesibukan akademik, ia aktif mengikuti Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan berbagai lomba inovasi digital. Hanin juga memilih menjadi asisten dosen sebagai sumber penghasilan tambahan yang sejalan dengan jurusannya, tanpa harus mengambil pekerjaan purna waktu yang berisiko mengganggu fokus kuliah.

"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," ujarnya.

Definisi Kemerdekaan Belajar bagi Penerima KIP-K

Hanin menilai definisi paling realistis dari kemerdekaan keuangan pendidikan adalah ketika mahasiswa bisa fokus menuntut ilmu tanpa terhenti kendala biaya. Baginya, kuliah tenang tanpa memikirkan tagihan SPP adalah bentuk kemerdekaan belajar yang nyata.

Ia pun menitipkan pesan kepada calon mahasiswa yang ragu melangkah karena persoalan biaya. Beasiswa bukan jalan pintas yang menanggung seluruh urusan hidup, mahasiswa tetap harus berjuang keras dan bertanggung jawab mengelola biaya harian.

"Jadi, mulailah bergerak dari sekarang. Rajin cari informasi beasiswa, asah manajemen waktu, dan terus upgrade kapasitas diri. Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," katanya.

Ke depan, Hanin berharap dapat lulus dengan IPK memuaskan dan mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat. Ia juga berharap semakin sedikit anak muda yang memendam mimpi kuliah hanya karena urusan biaya.

Follow jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks