DI YOGYAKARTA — Kegiatan yang menyasar anak-anak sekolah dasar ini dirancang bukan sekadar menonton film biasa. Para mahasiswa menggabungkan sesi pemutaran film dengan diskusi interaktif dan ajakan bercerita, sehingga siswa berperan aktif sebagai pengamat sekaligus narator pengalaman pribadi mereka.
Dari Menonton ke Menganalisis Perilaku Bullying
Film yang diputar mengangkat isu perundungan atau bullying. Setelah pemutaran selesai, mahasiswa pemandu membuka sesi tanya jawab dengan bahasa sederhana. Siswa diajak mengidentifikasi bentuk-bentuk perundungan, termasuk tindakan non-fisik seperti perkataan menyakitkan atau perilaku yang membuat orang lain tertekan.
Metode ini sengaja dipilih agar anak-anak tidak berhenti pada tahap memahami definisi. Mereka dituntun untuk menganalisis adegan, mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, lalu menyimpulkan sendiri mengapa tindakan tersebut salah.
Siswa Berani Cerita Pengalaman Pribadi
Bagian paling hidup dari kegiatan ini adalah sesi berbagi cerita. Beberapa siswa mengangkat tangan dan menceritakan pengalaman menyaksikan atau mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Suasana diskusi berjalan interaktif karena teman-teman lain turut menanggapi cerita tersebut.
Momen ini menjadi titik penting. Keberanian berbicara di depan umum tidak hanya melatih kepercayaan diri, tetapi juga membangun kesadaran bahwa korban bullying tidak sendirian dan tindakan tersebut bukan hal yang wajar untuk dibiarkan.
Menumbuhkan Empati dan Dampak Psikologis Perundungan
Diskusi kemudian diarahkan pada dampak bullying. Para mahasiswa mengajak siswa membayangkan perasaan korban, bagaimana kepercayaan diri bisa runtuh, hubungan pertemanan menjadi renggang, dan rasa aman di sekolah hilang. Pendekatan ini bertujuan menanamkan empati, bukan sekadar menghafal teori.
Dengan memahami dampak emosional tersebut, siswa diharapkan lebih peka terhadap kondisi teman sekelasnya. Mereka juga dibekali pemahaman bahwa melapor kepada guru atau orang tua adalah langkah berani, bukan tindakan mengadu.
Edukasi yang Dekat dengan Keseharian Anak
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata KKN Kolaboratif dalam menghadirkan edukasi yang relevan dengan kehidupan anak-anak. Alih-alih ceramah satu arah, metode review film dan diskusi terbuka terbukti mampu menarik minat siswa untuk berpikir kritis dan menyuarakan pendapat.
Pola pikir kritis yang dibangun sejak dini ini diharapkan berdampak jangka panjang. Sekolah bisa menjadi lingkungan yang lebih aman dan nyaman ketika setiap siswa saling menghargai dan berani berbicara ketika melihat hal yang tidak benar.
Belajar dari cerita, berani berpendapat — itulah inti kegiatan yang diusung mahasiswa KKN Kolaboratif di Sugerkidul ini.