DI YOGYAKARTA — Proyeksi ini muncul di tengah tekanan harga bahan bakar di Eropa yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah. Deutsche Bank bahkan memperkirakan penjualan Tesla di Eropa bisa melonjak hampir 40% pada kuartal kedua 2026—menjadikannya wilayah dengan pertumbuhan tercepat bagi merek milik Elon Musk tersebut.
Pasar Eropa Jadi Penyelamat, AS Justru Anjlok
Kebangkitan di Eropa menjadi kabar segar setelah tahun 2025 yang kelam bagi Tesla di sana. Penjualan sempat jeblok, salah satunya akibat reaksi negatif konsumen terhadap pernyataan politik Elon Musk yang dinilai merusak citra merek.
Namun situasi berbeda terjadi di dua pasar utama lainnya. Di Tiongkok, pertumbuhan hanya diprediksi tipis sekitar 3%. Sementara di Amerika Utara, justru diperkirakan terjadi penurunan 21% dibanding periode yang sama tahun lalu.
FSD dan Insentif Pajak: Dua Faktor Penentu
Salah satu katalis yang bisa mendongkrak penjualan di Eropa adalah peluncuran sistem Full Self-Driving (FSD). Namun fitur ini saat ini baru berlisensi di beberapa negara. Uni Eropa dijadwalkan mengambil keputusan soal potensi perluasan FSD pada akhir 2026.
Di AS, tantangan justru datang dari kebijakan fiskal. Insentif pajak federal sebesar $7.500 untuk kendaraan listrik dari era Biden diperkirakan berakhir September 2025. Hal ini ikut menekan permintaan di pasar domestik Tesla sendiri.
Model 3 dan Model Y Versi Murah Jadi Andalan
Untuk mengatasi persaingan ketat di pasar EV global, Tesla terus merilis varian harga lebih rendah dari dua model andalannya—Model 3 Standard dan Model Y Standard. Langkah ini sudah berjalan selama setahun terakhir untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.
Sayangnya Tesla tidak merinci angka pengiriman regional secara detail. Para analis hanya bisa mengandalkan data pasar dan tren penjualan untuk menyusun proyeksi mereka.