Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyiapkan tujuh event unggulan dalam rangka peringatan HUT ke-270 kota untuk mendongkrak kunjungan wisatawan sepanjang Oktober 2026. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan rangkaian acara itu dirancang tidak hanya berlangsung harian, tetapi bulanan agar lama menginap wisatawan lebih panjang.
YOGYAKARTA — Pemkot Yogyakarta menggelar tujuh event unggulan yang tersebar sepanjang Oktober 2026. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut rangkaian acara ini menjadi strategi untuk memperbanyak pengunjung dan memperpanjang durasi tinggal wisatawan di kota tersebut.
"Kenapa kita itu membuat tujuh event unggulan, event pendukung dan 'road to' karena kita itu ingin memperbanyak pengunjung di Yogyakarta," kata Hasto dalam konferensi pers di Yogyakarta, Senin.
Simfoni 1001 Pembatik hingga Kustomfest Masuk Daftar Event
Tujuh event unggulan yang diadakan pada Oktober itu meliputi Yk Festisale, Simfoni 1001 pembatik di Malioboro, Malioboro Run, Sarkemfest, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), Kustomfest, dan Otentik City Rally.
Seluruh kegiatan tersebut mengusung tema Otentik Konkret. Tema ini dinilai Hasto menjadi penguat jati diri Yogyakarta dalam menghadirkan kegiatan dan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Mengapa WJNC Digelar hingga Titik Nol Kilometer?
Puncak perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. WJNC sengaja diadakan di sepanjang Malioboro sampai Titik Nol Kilometer pada 7 Oktober agar lebih mudah dinikmati masyarakat di jalan yang lebih panjang.
Keputusan itu mempertimbangkan pengalaman event serupa pada tahun-tahun sebelumnya yang mampu mendongkrak wisatawan hingga lebih dari 40.000 penonton. "Kita tarik lebih panjang dari rel Malioboro, sampai ke Titik Nol agar bisa dinikmati. Malioboro adalah tempat paling top dan interest publik," ujar Hasto.
Length of Stay Jadi Target Utama
Hasto menjelaskan event yang berupa promo dan diskon ini melibatkan berbagai sektor perdagangan, UMKM, ritel, hotel, dan pelaku usaha lainnya. Kegiatan itu diharapkan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus membuat wisatawan tinggal lebih lama.
"Jadi itu sebetulnya kita ingin supaya 'length of stay' (lama menginap) orang yang ke Yogyakarta lebih panjang. Maka kemudian kita coba event-nya tidak hanya hari, tapi bulan," katanya.
Menurut dia, tema Otentik Konkret sangat tepat karena berbicara tentang jati diri Yogyakarta. "Konkret itu bicara tentang bagaimana jati diri itu bisa diwujudkan dalam bentuk gerak dan karya yang akhirnya bisa bermanfaat bagi kita semua," pungkasnya.