SLEMAN — BPBD Kabupaten Sleman memastikan kesiapan seluruh infrastruktur evakuasi dan sistem peringatan dini menyusul aktivitas Gunung Merapi yang masih dinamis. Sebanyak 37 Early Warning System (EWS) yang tersebar di wilayah Sleman kini tengah menjalani pemeriksaan berkala.
Dari total tersebut, 34 unit berada di sepanjang lereng Merapi dan tiga unit lainnya di wilayah Prambanan untuk memantau luapan air (overflow). Bambang Kuntoro menyebut perawatan mencakup sirene suara hingga kamera pengawas (CCTV) di lereng gunung dan barak-barak pengungsian.
Jalur Evakuasi dan Dam Sabo Jadi Prioritas Perbaikan
Mitigasi struktural yang dikerjakan BPBD Sleman mencakup pelebaran dan perbaikan jalur evakuasi. Pembenahan tebing rawan longsor di sepanjang jalur pengungsian juga menjadi perhatian, termasuk pemantauan kondisi dam sabo yang kerap dilalui moda transportasi berat.
"Kami mengecek, memperbaiki, dan merawat EWS digital, baik berupa sirene suara maupun kamera pengawas di wilayah lereng Merapi hingga di barak-barak pengungsian. Kesiapan barak serta pasokan logistik pangan dan non-pangan, termasuk stok masker anti-debu, juga telah disiagakan," kata Bambang di Sleman, Jumat.
KRB Tiga Kapanewon: Turi, Cangkringan, dan Pakem
Dari sisi non-struktural, BPBD Sleman menggencarkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB). Wilayah ini mencakup tiga kapanewon (kecamatan), yakni Turi, Cangkringan, dan Pakem.
Program pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi sekolah di lereng Merapi terus dijalankan. Penguatan kapasitas relawan dan pembagian tas siaga bencana untuk pengamanan dokumen penting warga saat evakuasi juga berjalan secara bertahap.
Pengawasan Kebakaran Vegetasi dan Koordinasi Lintas Daerah
Kewaspadaan jangka pendek difokuskan pada pengawasan visual potensi kebakaran vegetasi di lereng atas. Hal ini menyusul hempasan material panas Merapi yang dapat memicu titik api di area tersebut.
"Terkait kewaspadaan jangka pendek, BPBD Sleman meningkatkan pengawasan visual terhadap potensi kebakaran vegetasi di lereng atas akibat hempasan material panas Merapi," ujarnya.
Koordinasi berkala dilakukan dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), serta forum koordinasi lingkar Merapi yang mencakup Kabupaten Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten.
Status Siaga Gunung Merapi sendiri telah bertahan sejak 5 November 2020. Aktivitas vulkanik yang masih tinggi menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh pemangku kepentingan di empat kabupaten yang berada di lereng gunung tersebut.