YOGYAKARTA — Gelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 menjadi puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta. Parade yang melibatkan 14 kemantren ini menampilkan karakter wayang dan menyatukan ribuan masyarakat di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.
Ke-14 kemantren yang memeriahkan WJNC 2026 meliputi Kotagede, Gedongtengen, Pakualaman, Kraton, Umbulharjo, Mantrijeron, Mergangsan, Jetis, Danurejan, Wirobrajan, Gondomanan, Tegalrejo, Gondokusuman, dan Ngampilan. Masing-masing menampilkan tokoh wayang berbeda, mulai dari Bhatari Gagarmayang, Prabu Nilaudraka, Bhatara Guru, hingga Bhatara Surya.
Panggung Utama Pertama Kali di Titik Nol Kilometer
WJNC 2026 menandai satu dekade penyelenggaraan parade budaya ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya panggung utama berada di kawasan Tugu Jogja, tahun ini panggung dipusatkan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan terkait perpindahan panggung utama tersebut. "Oleh karena itu, semangat kali ini adalah bagaimana membuat nilai-nilai yang autentik itu menjadi konkret, bisa dinikmati oleh warga masyarakat," jelas Hasto.
Tema Ganakalajaya dan Pesan "Ora Mingkuh"
Tema Ganakalajaya yang mengisahkan kelahiran Dewa Ganesha diusung pada WJNC 2026. Menurut Hasto, tema tersebut membawa pesan "Ora Mingkuh", yang berarti tidak menghindar dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan.
"Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, dan jaya sebagai kejayaan bersama," lanjutnya.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tema HUT ke-270 Kota Yogyakarta, yakni "Otentik Konkret". Hasto menyebut Yogyakarta memiliki banyak kekayaan autentik, di antaranya nilai dan warisan budaya, kesenian, pendidikan, hingga ragam destinasi wisata.
Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono di Sumbu Filosofi
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, membacakan sambutan Gubernur DIY dalam kesempatan tersebut. Ia menyatakan WJNC menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung beragam tradisi dan kisah leluhur melalui parade budaya.
"Sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawono, memperindah dan menjaga kehidupan bersama, di sumbu filosofi ini, tradisi hadir di jalan raya sehingga kisah leluhur dapat dikenal dan dihayati warga dari segala usia," ungkap Sri Paduka.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata. "Sebagai kota pelajar, leluhur mengajarkan 'ngelmu iku kelakone kanthi laku', ilmu menjadi hidup ketika dijalani," tutur Sri Paduka.
Masuk Kriteria Unggulan Nusantara Kementerian Pariwisata
Pada 2024 dan 2025, WJNC berhasil masuk dalam 10 besar Kharisma Event Nusantara. Di tahun 2026, WJNC untuk pertama kalinya tergabung sebagai salah satu dari 125 program Kriteria Unggulan Nusantara Kementerian Pariwisata, bersama Keroncong Plesiran dan Geopark Night Specta.
WJNC 2026 menegaskan posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata sekaligus ruang ekspresi kebudayaan. Kekayaan kebudayaan Yogyakarta dikemas dalam balutan street art yang atraktif, sekaligus membuka ruang kolaborasi bersama daerah lain dalam memperkaya wajah kebudayaan Yogyakarta.