YOGYAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menyatakan Rumaket dirancang sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan beragam warisan budaya. Perjumpaan itu diwujudkan lewat pameran, pertunjukan, talkshow, aktivitas anak, workshop, hingga kuliner.
"Rumaket sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan beragam warisan budaya melalui pameran, pertunjukan, talkshow, aktivitas anak, workshop, kuliner, hingga berbagai kegiatan edukatif dan partisipatif," kata Yetti Martanti di Yogyakarta.
Menurut dia, kebudayaan tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Warisan budaya perlu dipertemukan dengan masyarakat, mengalami perjumpaan dengan generasi baru, serta diberi ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman.
Rumaket 2026 Masuk Rangkaian HUT ke-270 Kota Yogyakarta
Semangat itu menjadi napas penyelenggaraan Rumaket 2026. Tahun ini kegiatan tersebut memasuki penyelenggaraan ke-6 dan menjadi salah satu kegiatan pendukung dalam peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
"Dengan mengusung tema 'Hageganti', Rumaket 2026 mengajak masyarakat melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan bentuk dan cara penyampaian, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya," katanya.
Mengapa Wayang Jogja Jadi Fokus Utama?
Tema Hageganti tercermin melalui fokus utama "Hageganti: Transformasi Wayang Jogja". Wayang ditempatkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang membaca kembali nilai, cerita, simbol, dan pengetahuan budaya di kehidupan masyarakat hari ini.
"Tema Hageganti ini mempunyai arti bagaimana pewarisan budaya dimaknai atau disesuaikan dengan kondisi saat ini, supaya bisa dipahami masyarakat atau anak-anak dengan lebih baik," kata Yetti.
Anak-Anak Jadi Dalang dan Pemain Wayang Playground
Rumaket akan menampilkan pertunjukan kolaborasi Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka. Pendekatan ini mengenalkan wayang kepada anak-anak melalui pengalaman bermain dan pertunjukan.
"Kolaborasi Wayang Playground hadir dengan dalang maupun pemainnya adalah anak-anak. Jadi bagaimana kemudian pewarisan budaya yang disampaikan itu bisa dipahami oleh anak-anak dalam konteks hari ini," katanya.
Dolanan Tradisional hingga Pasar Kuliner Warisan Budaya Tak Benda
Sejumlah pertunjukan seni yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda juga akan ditampilkan. Di antaranya dolanan anak tradisional dan tarian, kemudian pasar kuliner yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda di Kota Yogyakarta.
"Karena proses pelestarian itu harusnya juga konteksnya bagaimana tetap hidup, tetap berjalan, tetap berkelanjutan sampai hari ini," kata Yetti Martanti.
Rumaket 2026 berlangsung di Taman Pintar Yogyakarta selama sepekan, 4-10 Oktober 2026, dengan rangkaian kegiatan yang menggabungkan pameran, pertunjukan, workshop, dan aktivitas partisipatif bagi warga Kota Yogyakarta.