DI YOGYAKARTA — Insiden peretasan ini pertama kali diungkap oleh peneliti keamanan Ronald Lovelace kepada Cyberscoop. Dua situs yang menjadi sasaran adalah Open Innovation Lab dan AI Integration Center, dua platform yang digunakan Angkatan Darat AS untuk menguji dan mengintegrasikan kecerdasan buatan serta teknologi baru lainnya.
Menurut laporan, peretas memodifikasi halaman error yang muncul saat pengunjung mencoba mengakses halaman yang tidak tersedia di kedua situs tersebut. Halaman error itu kemudian menampilkan pesan yang menyebut Trump sebagai "pedofil" dan "pencuri".
Isi Pesan Peretasan dan Target Politik
Tulisan di halaman yang dirusak juga menyebut nama Tom Barrack, Duta Besar AS untuk Turki saat ini. Selain itu, para peretas menyerukan "Free Kurdistan" atau kemerdekaan Kurdistan, yang menunjukkan motif politik di balik aksi ini.
Pesan yang menyerang Trump kemungkinan besar merujuk pada keterkaitan namanya dengan berkas milik Departemen Kehakiman AS mengenai mendiang taipan keuangan dan pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai motif pasti di balik peretasan.
Modus Operandi dan Kerentanan Sistem
Cyberscoop melaporkan bahwa halaman yang dirusak masih bisa diakses hingga Senin pekan lalu. Setelah publikasi tersebut, Angkatan Darat AS segera menurunkan halaman yang telah dimodifikasi. Hingga saat ini, pihak militer belum mengungkapkan bagaimana para peretas bisa mengakses dan mengubah halaman error tersebut.
Para ahli keamanan menduga kerentanan terletak pada sistem manajemen konten yang digunakan. Kedua situs Angkatan Darat AS tersebut diketahui berjalan di platform WordPress dengan sejumlah plugin. Plugin-plugin inilah yang sering menjadi celah bagi peretas untuk menyusup dan mengubah konten situs.
Belum ada pernyataan resmi mengenai apakah data sensitif ikut dicuri dalam insiden ini. Juru bicara Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi dari TechCrunch. Sementara itu, Angkatan Darat AS dikonfirmasi sedang melakukan investigasi internal.
Rentetan Serangan ke Lembaga Pemerintah AS
Aksi peretasan situs militer ini menjadi bagian dari rangkaian serangan siber yang menargetkan lembaga federal AS dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, kelompok hacktivis juga membobol situs Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) dan membocorkan dokumen kontrak yang berkaitan dengan kebijakan deportasi imigran.
Bukan hanya itu, DHS juga baru saja mengonfirmasi insiden peretasan lain yang menimpa platform berbagi intelijen mereka. Platform tersebut digunakan untuk bertukar informasi antara otoritas negara bagian, lokal, dan federal. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki sistem keamanan berlapis, lembaga pemerintah AS tetap rentan terhadap aksi hacktivis yang terorganisir.