SLEMAN — Mayoritas pelaku UMKM di Desa Preneur Purwobinangun, Kapanewon Pakem, masih menjalankan usaha dengan pendekatan supply side oriented. Mereka memproduksi barang berdasarkan kemampuan sendiri, bukan berdasarkan permintaan pasar.
Dosen Sekolah Pascasarjana UGM, Duddy Roesmara Donna, yang juga mitra Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) DIY, mengungkapkan kondisi itu menjadi penghambat utama daya saing. “Mayoritas Desa Preneur itu masih supply side oriented. Mereka menjual apa yang bisa diproduksi, bukan memproduksi apa yang dibutuhkan pasar. Karena itu peningkatan daya saing menjadi sangat penting,” kata Duddy, Selasa (14/7).
Dari Penumbuhan ke Tahap Maju
Desa Preneur Purwobinangun merupakan bagian dari program Desa Mandiri Budaya yang digagas Pemda DIY. Program ini memiliki tiga tahapan pengembangan: penumbuhan, pengembangan, dan maju.
Saat ini Purwobinangun telah memasuki tahun ketiga atau tahap maju. Fokus utama pengembangan di tahap ini adalah membangun sistem pemasaran bersama bagi para pelaku usaha. Pelatihan selama tiga hari digelar untuk memperkuat kapasitas mereka.
Hari pertama diisi materi inovasi produk, kontrak bisnis, dan peningkatan daya saing. Hari kedua membahas analisis pemasaran serta pemasaran digital melalui lokapasar dan media sosial. Hari ketiga difokuskan pada penyusunan struktur organisasi, standar operasional prosedur (SOP), hingga analisis kebutuhan modal dan studi kelayakan usaha.
Daya Saing Bukan Sekadar Kemasan
Duddy menekankan, peningkatan daya saing tidak cukup hanya dengan memperbaiki kualitas produk atau kemasan. Pelaku UMKM harus memahami seluruh lanskap persaingan usaha.
“Mulai dari tingkat kompetisi, posisi tawar pemasok dan pembeli, karakteristik konsumen, hingga ancaman produk substitusi dan pemain baru,” jelasnya. Ia mengakui banyak pelaku usaha merasa produknya sudah kompetitif di tingkat desa. Namun ketika masuk ke pasar yang lebih luas, persaingan jauh lebih berat.
“Usaha-usaha di sini mayoritas masih baru dan berskala mikro. Karena itu isu daya saing menjadi sangat krusial, terlepas bagaimana kondisi perekonomian saat ini,” kata Duddy.
Daya Beli Masyarakat Ikut Menekan
Kondisi perekonomian nasional yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat turut menjadi perhatian. Menurut Duddy, penurunan daya beli bisa menggerus daya saing produk meskipun pasokan bahan baku masih melimpah.
Di sisi lain, keberadaan banyak pemasok bahan baku justru bisa menjadi keuntungan. Contohnya, semakin banyak sentra produksi salak di berbagai daerah akan memperkuat keberlanjutan usaha olahan salak karena ketersediaan bahan baku lebih terjamin.
Duddy menambahkan, persoalan budi daya maupun penyusutan lahan komoditas pertanian merupakan ranah teknis sektor pertanian. Dari sisi kewirausahaan, yang terpenting adalah memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan memperkuat strategi pemasaran agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas.