KULONPROGO — Dinas Kesehatan Kulonprogo mencatat dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluas hingga 105 korban. Temuan awal menunjukkan adanya pelanggaran dalam proses pengolahan dan penyajian pangan di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo langsung bereaksi dengan memperketat pengawasan terhadap 50 SPPG yang tersebar di berbagai kapanewon. Dua unit di antaranya — SPPG Karangwuni, Wates, dan SPPG Kaliagung, Sentolo — masih dikenai sanksi penghentian sementara (suspend) hingga Minggu (26/7/2026).
105 Korban, Termasuk Ibu Hamil dan Menyusui
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kulonprogo, Ridwan Usman, membenarkan bahwa pelanggaran terbanyak terjadi pada tahap teknis pengolahan dan penyajian harian. "Secara fisik sarana prasarana pengolahan mereka memenuhi kriteria. Namun ketika proses berjalan, seperti cara memasak dan pengolahan harian, di situ terkadang terjadi kelalaian terhadap SOP yang tidak bisa kami awasi setiap hari," ujarnya.
Menurut Ridwan, suspend diberikan akibat pengelola tak patuh pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinkes. Tim gabungan akan turun ke lapangan setiap kali ada aduan warga untuk memastikan kepatuhan.
Pemkab Wajibkan SLHS, IPAL, dan Sertifikasi Food Handler
Selain menegakkan SOP pengolahan, Pemkab Kulonprogo mengintensifkan pendampingan administrasi perizinan bagi pengelola SPPG. Prioritas utama meliputi kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), kelayakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sertifikasi Halal, serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
"Kami melakukan sosialisasi teknis pengajuan perizinan dan mendorong agar seluruh aspek administrasi dan teknis lingkungan dapat dipenuhi secara tertib," tegas Ridwan.
BGN bersama Satgas MBG Kulonprogo juga mewajibkan seluruh SPPG memiliki SLHS serta mendorong sertifikasi food handler bagi 2.303 relawan penjamah makanan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif jangka panjang setelah empat insiden menonjol terjadi pada 2026.
BGN: Total Lima Insiden Sejak MBG Berjalan
Koordinator Wilayah BGN Kulonprogo, Aini Ambarwati, memaparkan bahwa program MBG yang dimulai 13 Januari 2025 kini melayani 83.555 peserta didik dan 7.091 kelompok Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita. Total penerima manfaat mencapai 101.751 jiwa.
"Sejauh ini ada sekitar 51 SPPG yang beroperasi dan dua SPPG yang terkena suspend akibat kejadian menonjol, yaitu SPPG Kaliagung dan Karangwuni. Total ada lima kejadian menonjol sejak MBG berjalan, di mana empat di antaranya terjadi pada tahun 2026 ini," jelas Aini.
Aini menegaskan pihaknya bertanggung jawab penuh atas dampak yang timbul, termasuk mengawal penanganan medis dan pembiayaan korban bekerja sama dengan Dinkes. Sementara pengawasan harian di lapangan terus diperkuat dengan sistem uji petik dan pemantauan langsung dari Satgas MBG Pemkab Kulonprogo.