Pencarian

Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 Resmi Berakhir di Candi Prambanan, Perkuat Jalinan Budaya Jawa-Bali

Minggu, 19 Juli 2026 • 23:15:01 WIB
Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 Resmi Berakhir di Candi Prambanan, Perkuat Jalinan Budaya Jawa-Bali
Rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 resmi ditutup di Utama Mandala Candi Prambanan, Sleman, Minggu (pekan lalu).

SLEMAN — Rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 resmi ditutup di Utama Mandala Candi Prambanan, Minggu (pekan lalu). Perjalanan budaya yang digagas Yayasan Puri Kauhan Ubud ini berlangsung selama sepekan dan menyambangi sejumlah situs bersejarah di Pulau Jawa dan Bali.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud nyata Pasabhan Kabudayaan Jawa-Bali. Tujuannya, mempererat hubungan kebudayaan antara kedua daerah melalui pertunjukan seni dan dialog budaya.

Perjalanan Budaya dari Banyuwangi hingga Prambanan

Perjalanan dimulai dari Pura Agung Blambangan di Banyuwangi. Rute kemudian berlanjut ke Wihara Padepokan Dhammadipa Arama di Kota Batu, Candi Tegowangi di Kediri, dan Pura Mangkunegaran di Surakarta. Puncak acara digelar di Candi Prambanan, Yogyakarta.

Selama penyelenggaraan, dua pertunjukan utama menjadi daya tarik: Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana. Keduanya mengangkat nilai kepemimpinan, persatuan, kebijaksanaan, toleransi, serta kemenangan dharma atas adharma.

Kebudayaan sebagai Jembatan, Bukan Pemisah

"Peradaban besar Nusantara dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan, spiritualitas, seni, dan penghormatan terhadap keberagaman. Kebudayaan adalah jembatan yang menyatukan, bukan yang memisahkan," kata Ari Dwipayana dalam keterangan resmi, Minggu.

Menurutnya, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen. Mulai dari masyarakat, tokoh agama, budayawan, akademisi, pemerintah daerah, hingga komunitas budaya di setiap lokasi penyelenggaraan.

Dukungan Lintas Lembaga dan Komunitas

Yayasan Puri Kauhan Ubud menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang mendukung pelaksanaan. Di antaranya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Yayasan Dhammadipa Arama, Pura Mangkunegaran, serta Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan.

Pemerintah daerah, para seniman, relawan, dan masyarakat juga disebut turut berperan aktif. Dukungan lintas lembaga ini menunjukkan bahwa kebudayaan mampu menjadi perekat sosial yang melampaui batas administratif dan keyakinan.

Nilai Kepemimpinan dan Toleransi dalam Pertunjukan Seni

Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana bukan sekadar hiburan. Keduanya sarat pesan moral tentang kepemimpinan yang bijaksana, pentingnya persatuan, serta ajaran bahwa kebaikan (dharma) pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan (adharma).

Pementasan di Candi Prambanan menjadi penutup yang simbolis. Candi ini, sebagai warisan budaya dunia, menjadi saksi bahwa tradisi dan nilai-nilai lokal masih relevan untuk terus dirawat dan diwariskan.

Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks