JAKARTA — Pergerakan rupiah masih tertekan di awal perdagangan Kamis (20/2). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka melemah 0,01 persen ke posisi Rp18.075 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp18.073.
Sentimen Global Masih Dominasi
Pelemahan tipis ini terjadi saat dolar AS masih perkasa di hadapan mata uang utama Asia lainnya. Pelaku pasar, menurut analis, masih menunggu hasil risalah rapat bank sentral AS (Federal Reserve) yang dijadwalkan rilis malam nanti.
“Pasar sedang mengkalibrasi ulang ekspektasi terhadap arah suku bunga AS. Data ketenagakerjaan dan inflasi masih jadi kunci,” ujar pengamat pasar uang dalam catatannya.
Level Kritis Rupiah dalam Sepekan Terakhir
Sepanjang pekan ini, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp18.070 hingga Rp18.080 per dolar AS. Tekanan eksternal dari penguatan indeks dolar masih menjadi faktor utama yang menghambat penguatan nilai tukar.
Bank Indonesia sendiri sebelumnya telah menegaskan akan terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas rupiah di level yang wajar. Namun, pergerakan harian seperti saat ini menunjukkan bahwa tekanan global masih cukup kuat.
Dampak ke Harga Barang Impor dan Utang Luar Negeri
Meski pelemahan hanya 2 poin, level Rp18.075 per dolar AS dinilai masih cukup tinggi bagi sektor riil. Harga barang impor, terutama bahan baku industri dan elektronik, berpotensi ikut terdorong naik jika tren ini berlanjut.
Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri swasta dan pemerintah dalam denominasi dolar juga ikut membengkak secara nominal. Pelaku usaha diimbau untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi volatilitas lanjutan.