Jogja - Pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) terus diperluas oleh para peneliti Universitas Gadjah Mada. Riset yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada industri, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pertanian cerdas serta sistem pemantauan dan keamanan bawah laut.
Sebagai bagian dari penguatan riset, UGM menghimpun potensi kolaborasi dengan mitra industri strategis seperti NVIDIA, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Telkom Indonesia. Kerja sama ini ditujukan untuk mengakselerasi pemanfaatan inovasi AI agar lebih aplikatif dan berdampak bagi kehidupan sehari-hari.
Di sektor pertanian, dosen Informatika Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM Andri Prima Nugroho menjelaskan bahwa AI dapat diterapkan dalam berbagai skema pertanian cerdas. Teknologi ini memungkinkan penyesuaian pemupukan berdasarkan karakteristik tanaman dan kearifan lokal, sekaligus menciptakan lingkungan budidaya yang lebih terkontrol.
Menurut Andri, kebutuhan pupuk setiap tanaman tidak bisa disamaratakan karena dipengaruhi oleh jenis tanaman dan kondisi lokal. Dengan dukungan sensor dan kamera termal, kondisi tanaman dapat dipantau melalui indikator Crop Water Stress Index (CWSI). Pendekatan ini bertujuan menjaga tingkat stres tanaman pada level terukur agar produktivitas tetap optimal.
AI juga dimanfaatkan dalam sistem indoor farming dengan mengatur pencahayaan buatan yang meniru ritme alami matahari terbit dan terbenam. Pengaturan ini dilakukan agar tanaman dapat beradaptasi secara bertahap dan tumbuh secara optimal.
Sementara itu, pemanfaatan AI di bidang keamanan dan pemantauan bawah laut dikembangkan oleh peneliti Eksplorasi Seismik FMIPA UGM Wiwit Suryanto. Ia menjelaskan bahwa kabel fiber optik dapat difungsikan sebagai sensor getaran sepanjang jalur kabel, layaknya mikrofon raksasa.
Teknologi tersebut memungkinkan pengambilan data secara real-time dari infrastruktur yang sudah ada, tanpa harus memasang ribuan sensor baru. Dengan dukungan AI, data getaran yang masif dapat dianalisis secara efisien untuk berbagai kebutuhan.
Pemanfaatan kabel fiber optik ini berpotensi digunakan untuk mitigasi tsunami dan gempa bumi, identifikasi jenis kapal berdasarkan karakteristik getaran mesinnya, hingga pencegahan kerusakan kabel bawah laut akibat jangkar kapal melalui sistem peringatan dini. Aktivitas ilegal seperti pencurian ikan atau pelanggaran di wilayah perbatasan laut juga dapat terdeteksi.
Menurut Wiwit, sistem tersebut memiliki jangkauan pemantauan yang luas, bahkan mampu mengenali getaran ikan berukuran besar seperti paus hingga jarak sekitar 100 meter dari kabel. Riset ini didukung oleh mitra dari Prancis dan tengah melalui proses validasi menggunakan seismograf.
Pemanfaatan AI berperan penting dalam memilah dan mengklasifikasikan data getaran, sehingga dapat dibedakan apakah sinyal berasal dari gempa bumi, pergerakan kapal, atau aktivitas biota laut. Dengan teknologi ini, UGM berharap dapat menyediakan data real-time yang akurat untuk mendukung pengelolaan sumber daya dan keamanan wilayah laut Indonesia.