Yogyakarta — Agenda inti hari kedua ICCF 2026 menghadirkan pengalaman langsung bagi peserta untuk berinteraksi dengan praktik pertanian tradisional yang berakar pada kearifan lokal. Kegiatan "Cultural Immersion & Hands-on Experience" membawa mahasiswa keluar dari kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menuju lahan pertanian yang telah dikelola dengan konsep permakultur selama 25 tahun.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan tur pengantar sistem permakultur selama 90 menit. Peserta diajak mengenal langsung bagaimana lahan dikelola tanpa bahan kimia, dan bagaimana tanaman, air, serta tanah diperlakukan sebagai satu ekosistem yang saling bergantung. Pemandu tur menjelaskan prinsip dasar permakultur sebagai sistem pertanian yang meniru pola alami dan mengedepankan keberlanjutan jangka panjang.
Sesi diskusi kedua dipandu langsung oleh Iskandar Waworuntu, pendiri Bumi Langit Institute. Iskandar menekankan bahwa permakultur melampaui sekadar metode bertani — ini adalah ilmu tentang bagaimana manusia kembali menjalankan perannya sebagai penjaga bumi.
"Permakultur itu sebetulnya adalah ilmu tentang bagaimana kita belajar untuk kembali menjadi khalifah fil ardh, sesuatu yang ilmunya sudah lama tercabut dari kita, terutama generasi yang besar di kota dan tidak lagi punya keakraban dengan alam," ujarnya di hadapan para peserta.
Iskandar menjelaskan bahwa dalam kehidupan tradisional, pemahaman tentang akhlak terhadap alam sudah menjadi bagian integral dari keseharian masyarakat. Seluruhnya tidak perlu dipelajari secara terpisah karena sudah melekat dalam tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Modernisasi, menurutnya, telah memutus hubungan tersebut secara perlahan hingga manusia tidak lagi menyadari konsekuensi dari cara berinteraksinya dengan alam. Ia menegaskan bahwa konsep barokah dalam Islam memiliki makna jauh lebih dalam dari sustainability dalam pengertian modern. "Sesuatu kebaikan yang kita tanam akan menjaga kebaikan itu untuk selalu berlangsung. Barokah itu bukan hanya di dunia ini, tetapi apa yang kita tanam dalam hubungan yang benar dengan alam akan terus berbuah bahkan ketika kita sudah tidak ada lagi," imbuhnya.
Di sela-sela sesi edukatif, peserta berkumpul untuk diskusi informal sambil mencicipi hasil produksi Bumi Langit dalam suasana jauh dari formalitas akademik. Diskusi berlangsung terbuka dengan peserta dari berbagai latar belakang negara mengajukan pertanyaan tentang permakultur, ketahanan pangan, dan nilai-nilai kearifan lokal yang masih relevan di era modern.
Interaksi ini mencerminkan tujuan utama ICCF — tidak hanya mengenalkan budaya kuliner, melainkan membawa pemahaman mendalam tentang filosofi hidup dan keberlanjutan yang tertanam dalam tradisi Yogyakarta. Mahasiswa internasional kembali ke kampus dengan pengalaman langsung tentang bagaimana pengetahuan lokal dapat menjadi solusi nyata untuk tantangan lingkungan global.