Sebuah warung kelontong di wilayah Kapanewon Semanu, Gunungkidul, mendadak menjadi pusat perhatian publik akibat pemasangan spanduk yang tidak lazim. Alih-alih memajang daftar harga atau nama toko dengan ukuran besar, pemilik Toko Man justru memilih diksi yang memancing tanda tanya bagi siapapun yang melihatnya.
Spanduk tersebut secara mencolok bertuliskan "Bukan Koperasi Desa Merah Putih". Penggunaan kata "Bukan" di awal kalimat menjadi kunci utama dari strategi pemasaran ini, karena secara psikologis memaksa orang untuk menoleh dan mencari tahu apa sebenarnya unit usaha yang sedang beroperasi di lokasi tersebut.
Langkah yang diambil oleh Toko Man merupakan bentuk nyata dari penerapan reverse psychology marketing di level usaha mikro. Dengan menyebutkan identitas yang bukan merupakan bagian dari dirinya, toko ini justru berhasil membangun pembeda (differentiation) yang kuat di tengah menjamurnya toko kelontong konvensional di wilayah Gunungkidul.
Warga yang melintas di jalan utama Semanu seringkali terjebak dalam persepsi awal bahwa bangunan tersebut adalah kantor lembaga keuangan desa. Namun, setelah membaca banner dengan saksama, mereka baru menyadari bahwa tempat tersebut adalah toko kelontong biasa yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Dalam dunia pemasaran, perhatian (attention) adalah komoditas pertama yang harus diraih sebelum terjadinya transaksi. Strategi "marketing tingkat tinggi" yang diusung Toko Man ini memanfaatkan celah kognitif masyarakat lokal. Berikut adalah beberapa faktor mengapa taktik ini berhasil:
Fenomena di Semanu ini menunjukkan bahwa inovasi pemasaran tidak selalu membutuhkan biaya besar atau agensi profesional. Kreativitas dalam mengolah kata-kata pada media promosi fisik seperti banner masih menjadi senjata ampuh bagi pelaku UMKM di daerah untuk bersaing memperebutkan atensi pelanggan di tengah ketatnya persaingan bisnis ritel lokal.