Dinkes DIY Waspadai Hantavirus Usai 6 Kasus Positif pada 2025, Sleman Catat Terbanyak

Penulis: Jamal Nasution  •  Senin, 11 Mei 2026 | 14:04:01 WIB
Dinkes DIY tingkatkan kewaspadaan hantavirus setelah 6 kasus positif sepanjang 2025.

Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta meningkatkan kewaspadaan dini terhadap hantavirus meskipun hingga 2026 belum ditemukan kasus baru di provinsi tersebut. Kewaspadaan diperketat setelah sepanjang tahun 2025 tercatat enam warga positif terjangkit penyakit yang ditularkan tikus ini.

Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi menegaskan hingga saat ini tidak ada laporan kasus baru dari hasil surveilans sentinel rutin di laboratorium. Meski begitu, pengawasan aktif bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota terus diperkuat.

Penularan Hantavirus: Bukan Sekadar Gigitan Tikus

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Hanta, berbeda dengan leptospirosis yang dipicu bakteri Leptospira. Meski jalur penularannya hampir serupa, keduanya memerlukan penanganan berbeda.

"Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi," kata Anung. Ia menambahkan droplet dari kotoran tikus yang terhirup serta paparan air dan tanah tercemar juga menjadi jalur masuk virus ke tubuh manusia.

Gejala yang Perlu Diwaspadai Warga DIY

Dinkes DIY mengimbau masyarakat tidak panik tapi tetap waspada. Jika mengalami demam, nyeri otot, sesak napas, atau keluhan lain setelah berada di lingkungan berisiko, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan optimal," ujar Anung.

Langkah Pencegahan Sederhana ala Dinkes DIY

Pencegahan hantavirus tidak memerlukan teknologi rumit. Dinkes DIY mendorong penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai tameng utama. Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus, menutup makanan dan sumber air, serta mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas menjadi krusial.

Penggunaan alas kaki di area lembap juga ditekankan mengingat tikus kerap meninggalkan jejak di tempat basah.

Surveilans Aktif dan Edukasi Warga

Dinkes DIY bersama pemerintah kabupaten dan kota memperkuat surveilans aktif melalui pelacakan kasus dan pemantauan wilayah sekitar domisili penderita. Edukasi pengendalian tikus serta pentingnya sanitasi lingkungan terus digencarkan lewat puskesmas dan kader kesehatan.

"Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada," pungkas Anung.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top