Targetnya mencetak generasi “Jalma Kang Utama”: manusia yang cerdas secara akademik, berbudaya, dan bertanggung jawab. Dana Keistimewaan (Danais) telah dialokasikan sejak 2022 untuk menyusun buku pedoman yang kini didistribusikan ke seluruh sekolah di DIY.
PKJ dirancang sebagai fondasi pendidikan berbasis budaya lokal, bukan sekadar tambahan kurikulum. Tiga filosofi utama menjadi dasarnya: Hamemayu Hayuning Bawana (menjaga harmoni dunia), Sangkan Paraning Dumadi (memahami asal-usul dan tujuan hidup), dan Manunggaling Kawula Gusti (kesatuan manusia dengan Sang Pencipta).
Nilai-nilai ini tidak diajarkan sebagai teori di kelas. Guru mengintegrasikannya dalam setiap mata pelajaran, kebiasaan harian, hingga budaya sekolah. Tidak ada beban akademik baru yang membebani siswa.
SD Negeri Kasihan, Bantul, telah menerapkan budaya “NGAJENI” sebagai uji coba. Sekolah ini membiasakan siswa mempraktikkan sopan santun lewat kebiasaan sehari-hari: ngapurancang, nuwun sewu, matur nuwun, hingga injih. Bukan sekadar diucapkan, tapi dipraktikkan dalam interaksi antara siswa dan guru.
Hasilnya mulai terlihat. Sekolah yang menerapkan PKJ mencatat nilai karakter rata-rata 4,1 dari skala 5 — kategori sangat baik.
Gagasan ini berangkat dari visi Sri Sultan yang sejak 2019 menekankan pentingnya menghadirkan “roh Jogja” dalam sistem pendidikan. Nilai-nilai yang diajarkan mencakup tata cara makan, duduk, melewati orang yang lebih tua, hingga mendahulukan dan menghormati orang yang dituakan.
“Ajarkan sejak dini mulai di rumah. Bagaimana tata cara menghormati orang tua, orang yang lebih tua, dan orang yang dituakan. Akhirnya di luar rumah sudah terbentuk kebiasaan menghormati guru, pejabat, dan lainnya,” demikian unggahan akun Facebook “Selalu Ada Cerita Dari Jogja” yang ramai dikomentari warga.
Pemerintah DIY menargetkan seluruh jenjang pendidikan — PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi — menerapkan PKJ setelah peluncuran resmi 4 Mei 2026. Distribusi buku pedoman telah berlangsung sejak 2022 hingga 2025 menggunakan Dana Keistimewaan.
Pertanyaan mengemuka di kalangan pendidik: apakah pendidikan berbasis budaya lokal akan menjadi benteng yang memperkuat generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi? Atau justru menjadi tantangan baru dalam menyeimbangkan nilai tradisi dan tuntutan global? Jawabannya akan mulai terlihat setelah 4 Mei 2026, saat pendidikan di Jogja benar-benar memasuki arah baru.