KULONPROGO — Suasana berbeda terlihat di kawasan Ekowisata Sungai Mudal, Kalurahan Jatimulyo, Kamis (14/5/2026). Di tengah aktivitas wisata alam, ratusan umat Buddha dari berbagai kalangan mengikuti prosesi menuju Hari Raya Waisak 2026 melalui kegiatan bertajuk Tribuana Manggala Bakti.
Rangkaian ritual diawali dengan pengambilan air suci di sungai sebagai simbol penyucian diri. Setelah itu, peserta melepaskan burung dan ikan endemik, serta menanam pohon di sekitar kawasan tersebut. Prosesi ini diikuti oleh anak-anak hingga orang tua dengan penuh kekhusyukan.
Ketua Panitia Tribuana Manggala Bakti 2026, Surahman, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tradisi ekoteologi yang sudah mengakar di kalangan umat Buddha Pegunungan Menoreh. Istilah tribuana merujuk pada tiga dimensi kehidupan, yakni bumi, air, dan udara.
"Jadi kami melestarikan banyak satwa, nanti ada penanaman pohon, pelepasan ikan nilam endemik, dan pelepasan burung yang juga endemik sini," ujar Surahman, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, setiap elemen dalam ritual memiliki simbolisasi langsung. Penanaman pohon mewakili dimensi bumi, pelepasan burung untuk udara, serta pelepasan ikan untuk air. Ia menambahkan bahwa tradisi ini memadukan nilai keagamaan dengan budaya lokal Jawa yang telah lama melekat di masyarakat Menoreh.
Surahman menyebut kegiatan ini merupakan wujud dukungan terhadap program Astaprotas dari pemerintah yang dibimbing oleh Masyarakat Buddha Yogyakarta. "Kami sebagai umat Buddha mencoba menjaga keseimbangan alam," lanjutnya.
Ia menilai pendekatan ekoteologi membuat praktik keagamaan lebih mudah diterima sekaligus memperkuat pelestarian tradisi lokal. Kegiatan di Sungai Mudal ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam perayaan Waisak yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga ekologis dan budaya.
Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, mengatakan bahwa kegiatan ini sejalan dengan konsep ekoteologi dalam Astaprotas. Menurutnya, ekoteologi menekankan peran umat beragama dalam memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
"Implementasi ekoteologi adalah bagaimana kita menjadi umat beragama yang berdampak kepada lingkungan dan kelestarian alam," ungkapnya.
Prosesi yang berlangsung bersamaan dengan aktivitas wisata di Sungai Mudal menciptakan suasana unik antara wisata alam dan peribadatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan sektor pariwisata tanpa mengurangi kekhusyukan ritual.