YOGYAKARTA — Ancaman penyebaran virus Ebola di Afrika Timur memasuki fase baru. WHO resmi menetapkan wabah di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) setelah lonjakan kasus dilaporkan dalam beberapa pekan terakhir. Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyebut kondisi di wilayah terdampak menciptakan “perfect storm epidemiology” yang mempercepat penyebaran penyakit.
Menurut Dicky, wilayah seperti Ituri, Bunia, dan Mongwalu di Kongo hingga Uganda memiliki kerentanan tinggi akibat konflik bersenjata, mobilitas penduduk yang padat, aktivitas pertambangan, dan lemahnya sistem kesehatan. “Hal-hal tersebut meningkatkan kemungkinan virus menyebar lebih luas,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang umumnya terjadi di pedesaan terisolasi, kasus kali ini telah mencapai kawasan perkotaan. Dicky menyebut Kampala dan Kinshasa kini masuk dalam daftar wilayah yang melaporkan kasus positif. “Risiko global meningkat karena adanya urban spillover. Ini berbeda dengan banyak outbreak Ebola sebelumnya yang lebih banyak terjadi di wilayah perdesaan,” imbuhnya.
Mobilitas penduduk yang tinggi di kota-kota besar disebut memperbesar potensi penularan lintas batas. Dicky menambahkan bahwa kondisi ini membuat pengendalian wabah jauh lebih kompleks dibandingkan ketika kasus masih terpusat di daerah terpencil.
Selain faktor geografis dan sosial, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan menjadi tantangan serius. Dicky menilai paparan hoaks, teori konspirasi, dan rendahnya literasi kesehatan memperumit proses penanganan di lapangan. “Hal-hal tersebut meningkatkan kemungkinan virus menyebar lebih luas,” katanya menegaskan.
Kondisi ini diperparah dengan belum adanya vaksin yang terbukti efektif untuk sub-varian Ebola Bundibugyo. Dicky menyebut situasi tersebut menambah kerentanan masyarakat terdampak sekaligus meningkatkan ketidakpastian dalam upaya pengendalian wabah.
Hingga saat ini, jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 246 suspek dengan sekitar 80 kematian. Namun, Dicky menilai angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dibanding kondisi sebenarnya di lapangan. Keterbatasan akses laboratorium, stigma masyarakat, dan banyaknya kematian yang tidak tercatat secara resmi menjadi penyebab data yang tidak akurat.
Dicky mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan logistik dan pengawasan epidemiologi di kedua negara. Menurutnya, tanpa intervensi cepat, risiko penyebaran lintas benua akan terus meningkat. “Ini bukan lagi ancaman lokal, tapi sudah menjadi peringatan global,” pungkasnya.