Ekspor Kelapa dan CPO ke Lebanon Tumbuh, Mentan Amran Targetkan Perluasan Pasar Timur Tengah

Penulis: Galih Prayoga  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07:25 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menerima Duta Besar Lebanon Salam Al Achkar di Jakarta untuk membahas perluasan ekspor kelapa dan CPO, Kamis (9/7/2026).

DI YOGYAKARTA — Pangsa pasar Lebanon bagi produk perkebunan Indonesia dinilai masih bisa diperlebar. Mentan Amran, saat menerima Duta Besar Lebanon Salam Al Achkar di Jakarta, Kamis (9/7/2026), menyampaikan komitmen memperkuat ekspor kelapa dan CPO sebagai respons terhadap kebutuhan impor pangan Lebanon yang tinggi.

"Mereka menawarkan olive oil, kemudian saya minta ditambah ekspor kelapa dan CPO dari Indonesia ke Lebanon," ujar Amran dalam pernyataan resmi.

Kelapa dan CPO Dominasi Ekspor ke Lebanon

Sepanjang Januari–Desember 2025, volume ekspor kelapa mencapai 26,76 juta kilogram dengan nilai US$30,49 juta. Disusul kelapa sawit sebanyak 4,33 juta kilogram senilai US$4,89 juta, serta kopi 730,8 ribu kilogram senilai US$3,51 juta.

Komoditas lain yang ikut dikirim meliputi kakao, kacang mede, cengkeh, dan pala. Total volume ekspor mencapai 33,83 juta kilogram, menghasilkan surplus perdagangan pertanian sebesar US$44,8 juta bagi Indonesia.

Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar dunia dengan areal perkebunan lebih dari 3,3 juta hektare dan produksi sekitar 2,8 juta ton per tahun. Produksi minyak sawit nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 56 juta ton, terdiri dari CPO dan palm kernel oil.

Strategi Perdagangan Saling Melengkapi

Karakteristik komoditas kedua negara disebut saling melengkapi. Indonesia unggul di produk tropis seperti kelapa, sawit, kopi, kakao, rempah, beras, dan buah tropis. Lebanon dikenal sebagai produsen minyak zaitun, zaitun, anggur, buah sitrus, apel, dan tanaman obat.

Untuk memperkuat hubungan dagang, Indonesia dan Lebanon akan mendorong business matching, penguatan kerja sama sanitari dan fitosanitari (SPS), harmonisasi regulasi perdagangan, serta peningkatan promosi dagang.

Langkah ini sekaligus membuka peluang investasi di sektor pertanian, pertukaran teknologi, riset, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia antara kedua negara.

Peluang di Tengah Ketergantungan Impor Lebanon

Lebanon mengimpor 65–80 persen kebutuhan pangannya, menjadikannya pasar potensial bagi produk pertanian Indonesia. Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok pangan sekaligus pendukung ketahanan pangan negara Timur Tengah tersebut.

Dengan kapasitas produksi nasional yang besar dan tren permintaan impor Lebanon yang terus berlanjut, ekspor kelapa dan CPO diproyeksikan masih bisa meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: industry.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top