YOGYAKARTA — Bisnis daging anjing di Yogyakarta tak pernah benar-benar mati. Meski warung-warung sengsu (tongseng daging anjing) berguguran akibat desakan aktivis dan tekanan hukum, permintaan pasar tetap ada. Doyok, seorang jagal yang sudah berkecimpung sejak 2012, memilih bertahan dengan cara berpindah ke sistem penjualan tertutup.
Dua Metode Jagal: Dipukul atau Ditenggelamkan Hidup-hidup
Doyok menerapkan dua metode penjagalan yang diwariskan turun-temurun. Pertama, menenggelamkan anjing hidup-hidup ke dalam bak air penuh. Kedua, memukul bagian kepala hewan menggunakan palu atau kayu hingga mati di dalam karung.
"Anjing memang begitu, Mas. Nggak boleh disembelih. Nanti kurang gurih dagingnya," ujar Doyok kepada Mojok.co, Jumat (7/3/2025) lalu.
Ia meyakini darah anjing harus meresap ke dalam daging dan tidak boleh keluar. Menurutnya, jika disembelih seperti hewan pada umumnya, daging akan alot dan kurang gurih. Dalam sebuah video yang ia perlihatkan, Doyok terlihat memukuli anjing yang terperangkap di dalam karung hingga lengkingan panjang hewan itu berhenti.
Dari Warung Sukses ke Pesanan Rahasia Lewat WA
Pada 2015 hingga 2017, Doyok mengaku memiliki warung yang cukup sukses di salah satu kawasan di Jogja. "Bisa diadu sama sengsu di Solo. Tempat saya terkenal, Mas," ungkapnya penuh percaya diri.
Memasuki 2019, aktivis pencinta hewan mulai mendesak penutupan tempat usahanya. Doyok mengaku takut diancam akan dilaporkan ke polisi, sehingga ia menutup kedai. Ia sempat pindah lokasi, lalu berganti komoditas menjual daging biawak dan codot (kelelawar buah), namun kembali terhenti akibat pandemi Covid-19.
Kendati demikian, ia tak sepenuhnya berhenti. "Masih banyak yang nanyain. Makanya saya tetap jualan, tapi orderan langsung aja lewat WA, nggak buka warung lagi," jelasnya.
Kode "Bekicot" di Grup Facebook untuk Mengelabui
Sistem penjualan sembunyi-sembunyi ini hanya melibatkan jaringan pelanggan lama. Doyok memanfaatkan komunikasi tersamar di media sosial dengan kosakata "alternatif" untuk menghindari pelacakan aktivis dan pihak berwajib.
"Saya biasanya pakai kode tertentu. Di grup Facebook. Biasanya saya nawarin pakai kata 'bekicot'. Orang yang paham ya tahu kalau yang dimaksud itu daging anjing," ungkap Doyok.
Doyok mengaku tak peduli dari mana asal stok anjing yang ia jual. Sementara itu, di Surakarta yang selama ini dikenal sebagai episentrum konsumsi sengsu, pemerintah daerah setempat telah resmi melarang praktik perdagangan daging anjing. Pada 2024 lalu, polisi menggagalkan penyelundupan truk yang mengangkut 226 ekor anjing tujuan sejumlah rumah makan di Solo.