DI YOGYAKARTA — Film "The Cell" bukanlah tontonan sci-fi biasa. Tayang pada tahun 2000, film ini menempatkan Jennifer Lopez sebagai psikolog anak bernama Catherine Deane. Ia menggunakan teknologi khusus untuk memasuki alam bawah sadar seorang pembunuh berantai guna menemukan lokasi korban terakhir yang belum ditemukan.
Sang pembunuh, Carl Rudolph Stargher, diperankan oleh Vincent D'Onofrio. Penampilannya di film ini hanya berselang tiga tahun setelah perannya yang hampir tidak dikenali di film "Men in Black". Sementara itu, Vince Vaughn muncul sebagai Agen Khusus Peter Novak, salah satu peran serius langka dalam kariernya.
Visual Ekstrem yang Membelah Opini
Dunia dalam pikiran Stargher digambarkan secara visual sangat liar, disebut-sebut mirip perpaduan antara gaya "Dracula"-nya Francis Ford Coppola dengan efek digital ala "The Lawnmower Man". Kostum yang dikenakan para karakter di dalam realitas virtual itu pun dirancang sangat mencolok.
Kritikus Andrew Pulver dari The Guardian menulis bahwa "fotografi yang apik dan desain mewah sama sekali tidak bisa mengkompensasi skenario yang membosankan, tanpa ketegangan, serta pemilihan pemain yang tidak tepat." Sementara itu, Jonathan Rosenbaum dari Chicago Reader berkomentar sinis, "Jika Anda mengira film thriller realitas virtual dan turunan 'The Silence of the Lambs' sudah habis masa berlakunya, coba pikirkan lagi."
Namun, ada satu suara yang membela film ini: kritikus legendaris Roger Ebert. Ia menjuluki "The Cell" sebagai "salah satu film terbaik tahun ini."
Film yang Mungkin Terlalu Maju untuk Zamannya?
Banyak pengamat percaya bahwa "The Cell" adalah film yang lahir terlalu cepat. Jika dirilis beberapa tahun kemudian—di era ketika "Inception" (2010) sukses mempopulerkan konsep penjelajahan alam mimpi—film ini mungkin akan mendapat apresiasi yang lebih besar.
Meskipun gagal menjadi film kultus atau mendapat pengakuan luas, capaian box office sebesar USD 104 juta membuktikan bahwa film ini tetap menarik perhatian penonton di bioskop. Bagi penikmat sinema yang menyukai eksperimen visual berani dengan narasi yang tidak biasa, "The Cell" bisa menjadi tontonan yang menarik untuk dibandingkan dengan film-film fiksi ilmiah modern saat ini.