DI YOGYAKARTA — Ferrari Luce EV menjadi mobil listrik pertama yang keluar dari pabrik Maranello. Alih-alih mendapat sambutan hangat, desainnya justru menuai kritik keras dari berbagai pihak. Mantan bos Ferrari, Luca Di Montezemolo, hingga Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, secara terbuka menyebut mobil ini kehilangan jiwa supercar Italia yang identik dengan mesin buas dan garis desain emosional.
Kritik itu sempat membuat saham Ferrari anjlok 8 persen di bursa Milan setelah peluncuran. Analis menyebut fenomena itu sebagai design hate alias kebencian publik terhadap tampilan Luce EV. Namun, respons negatif di media sosial ternyata tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Pemesanan Membludak di Thailand Sejak Bulan Lalu
Dilansir dari The Nation Thailand dan The Supercar, Jumat (19/6), Cavallino Motors selaku importir resmi Ferrari di Thailand sudah membuka keran pemesanan Luce EV sejak bulan lalu. Meski angka pasti tidak disebutkan, permintaan disebut meningkat pesat dari hari ke hari.
Harga yang dipatok untuk pasar Thailand adalah 33,84 juta baht, setara Rp 18,3 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan banderol di Eropa yang hanya Rp 11,3 miliar. Selisih hampir Rp 7 miliar itu tidak menyurutkan minat calon pembeli.
"Meski harganya lebih mahal dari Eropa, hal itu tidak mengurangi minat dari calon pembeli. Malahan, daya tarik EV pertama Ferrari ini justru menarik minat pembeli," tulis sumber tersebut.
CEO Ferrari Bantah Isu Sepi Peminat
Chief Executive Officer Ferrari, Benedetto Vigna, mengklaim bahwa secara global Luce EV justru ramai peminat. Ia menyebut data pemesanan membuktikan mobil ini tidak seburuk yang digambarkan di media sosial.
"Kami melihat minat yang sangat kuat (terhadap Luce EV), termasuk dari pelanggan baru," kata Vigna akhir bulan lalu.
Pengiriman perdana ke konsumen Thailand baru akan dimulai akhir tahun depan. Artinya, para pembeli harus menunggu sekitar satu setengah tahun sejak pemesanan.
Ferrari Ambil Risiko Besar dengan Desain Revolusioner
Luce EV menjadi ujian pertama bagi Ferrari di era elektrifikasi. Mobil ini sepenuhnya meninggalkan tradisi mesin V8 dan V12 yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas pabrikan asal Italia tersebut. Langkah ini dinilai terlalu berani oleh sebagian penggemar setia.
Namun, respons positif dari pasar Thailand menunjukkan bahwa segmen pembeli supercar di Asia Tenggara justru terbuka terhadap perubahan. Mereka tidak terpaku pada suara knalpot bising atau garis bodi klasik khas Ferrari. Harga premium Rp 18,3 miliar pun tidak menjadi penghalang.
Fenomena ini mengingatkan pada strategi Tesla di awal kemunculannya: dikritik habis-habisan, tapi tetap laku di pasar yang tepat. Ferrari tampaknya berhasil membuktikan bahwa gebrakan berani tetap bisa mendatangkan cuan, meski harus dibayar dengan omongan pedas di kolom komentar.