DI YOGYAKARTA — Target ambisius ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta. Presiden menegaskan, dari ribuan perusahaan negara yang ada, lebih dari 200 di antaranya sudah ditutup. Angka akhir yang diinginkan berkisar antara 250 hingga 300 perusahaan.
Dony Oskaria, yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, mengonfirmasi bahwa target finalnya adalah sekitar 250 perusahaan. "Presiden ingin jumlah BUMN ditekan hingga sekitar 250 perusahaan," ujarnya.
Biaya Operasional Membengkak, Negara Dirugikan
Presiden Prabowo menyoroti banyaknya BUMN yang tidak memberikan keuntungan signifikan. Ia menyebut lebih dari 750 perusahaan negara telah ditutup karena hanya membayar biaya operasional tanpa hasil. "Uang rakyat tidak boleh terbuang untuk perusahaan yang hanya membayar overhead," tegasnya.
Saat ini, Danantara tengah melakukan streamlining terhadap sekitar 1.077 perusahaan BUMN. Dari jumlah tersebut, sekitar 52 persen masih mengalami kerugian. Total kerugian yang ditanggung negara mencapai Rp20 triliun. Konsolidasi dinilai sebagai langkah krusial untuk menghentikan kebocoran ini.
Karyawan Tetap Dipertahankan, Ini Hitungannya
Meski jumlah perusahaan menyusut, Dony Oskaria memastikan tidak ada satu pun karyawan yang akan di-PHK. Seluruh pegawai akan dialihkan ke perusahaan hasil penggabungan tanpa pengurangan. "Pemerintah tidak ingin menzalimi karyawan, karena kondisi perusahaan bukan kesalahan mereka," jelas Dony.
Keputusan ini diambil dengan perhitungan matang. Biaya tenaga kerja per tahun hanya sekitar Rp2 hingga Rp3 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan potensi penghematan dari restrukturisasi yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah. Mempertahankan karyawan dinilai sebagai langkah yang tepat secara finansial dan moral.
Efisiensi Triliunan Rupiah dari Konsolidasi
Program konsolidasi ini diperkirakan mampu menghasilkan penghematan langsung hingga Rp50 triliun per tahun. Penghematan berasal dari penghapusan transaksi berlapis antara perusahaan induk, anak usaha, dan perusahaan di bawahnya. Praktik ini selama ini menjadi sumber inefisiensi yang besar.
Dony memberikan contoh konkret. Penggabungan sejumlah subholding di lingkungan Pertamina telah menghasilkan efisiensi sekitar 600 hingga 700 juta dolar AS. Model ini akan diterapkan pada kelompok usaha BUMN lainnya. Tujuannya jelas: membuat perusahaan negara lebih ramping, sehat, dan mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.