YOGYAKARTA — Hari pertama pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP di Yogyakarta langsung diwarnai antrean panjang. Di SMPN 5 Jogja, puluhan orang tua calon siswa sudah mulai berbaris sejak pukul 04.00 WIB, jauh sebelum loket verifikasi dibuka pada pukul 08.00 WIB.
Strategi Orang Tua Demi Kursi di Sekolah Favorit
Mereka datang dengan membawa map tebal berisi fotokopi kartu keluarga, akta kelahiran, dan dokumen pendukung lainnya. Sebagian mengaku siap begadang demi memastikan anaknya mendapatkan nomor antrean awal.
"Saya sudah di sini sejak jam setengah empat subuh. Takut kehabisan kuota, soalnya saingan banyak," ujar salah seorang orang tua yang enggan disebutkan namanya.
Antrean sempat mengular hingga ke luar pagar sekolah. Petugas keamanan berjaga untuk mengatur arus masuk orang tua agar tidak terjadi penumpukan di area verifikasi.
Dua Jalur yang Dibuka Serentak
Pendaftaran di SMPN 5 Jogja hari ini melayani dua jalur sekaligus. Pertama, Jalur Domisili Daerah yang memprioritaskan calon siswa berdasarkan jarak tempat tinggal ke sekolah. Kedua, KSJPS atau Kerja Sama Jalur Prestasi Sekolah, yang memberikan afirmasi bagi siswa berprestasi dari sekolah mitra.
Kedua jalur ini memiliki daya tampung terbatas. Orang tua yang terlambat mendaftar berisiko gagal mendapatkan kursi, terutama di sekolah negeri favorit seperti SMPN 5 yang dikenal memiliki peminat tinggi setiap tahun.
Verifikasi Berkas: Tahap Paling Kritis
Proses verifikasi di hari pertama berlangsung secara bertahap. Petugas memeriksa keabsahan dokumen kependudukan dan nilai rapor calon siswa. Jika ditemukan ketidaksesuaian data, berkas langsung ditolak dan pendaftar diminta melengkapi dalam waktu yang ditentukan.
Pihak sekolah mengimbau orang tua untuk memeriksa ulang kelengkapan dokumen sebelum datang ke lokasi. "Kami ingin proses berjalan lancar. Jangan sampai antre panjang tapi berkasnya tidak lengkap," kata petugas penerimaan di lokasi.
PPDB 2026: Persaingan Semakin Ketat
Fenomena antre subuh ini bukan kali pertama terjadi. Setiap tahun ajaran baru, sekolah-sekolah negeri di Yogyakarta selalu kebanjiran peminat. Jalur domisili menjadi primadona karena peluang diterima lebih besar bagi warga yang tinggal di radius dekat sekolah.
Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri telah mengatur zonasi secara ketat untuk pemerataan akses pendidikan. Namun, sekolah favorit seperti SMPN 5 tetap menjadi sasaran utama karena reputasi akademik dan fasilitas yang dianggap unggul.