Perangkat gamelan pusaka Keraton Yogyakarta, Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu, mulai ditabuh para niyaga di kompleks Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Senin (24/8/2026). Tabuhan dua perangkat gamelan sekaten ini akan berlangsung tujuh hari berturut-turut secara bergantian menandai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
YOGYAKARTA — Suara berat slenthem dan saron dari perangkat gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga kembali mengalun dari Panggonan Lor, kompleks Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Senin (24/8/2026) malam. Bersamaan dengan itu, perangkat Kanjeng Kyai Guntur Madu ditabuh dari Panggonan Kidul. Dua pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini akan bersahutan selama tujuh hari ke depan.
Para niyaga atau penabuh gamelan duduk melingkar, memukul bilah-bilah perunggu dengan tabuh kayu berbalut kulit. Alunan laras pelog dan slendro terdengar bergantian dari dua lokasi berbeda di halaman masjid, menyambut datangnya bulan Maulid.
Dua Pusaka, Satu Tujuan: Menandai Maulid Nabi
Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu bukan gamelan biasa. Keduanya merupakan perangkat pusaka warisan Keraton Yogyakarta yang hanya dikeluarkan setahun sekali saat perayaan Sekaten. Tradisi menabuh gamelan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurut keterangan yang dihimpun dari lokasi, kedua perangkat gamelan tersebut ditabuh secara bergantian. Jika Kanjeng Kyai Nagawilaga ditabuh di Panggonan Lor, maka Kanjeng Kyai Guntur Madu dibunyikan dari Panggonan Kidul. Pola bergantian ini berlangsung selama tujuh hari penuh.
Suasana di Lokasi: Niyaga Larut dalam Alunan
Pantauan di lokasi menunjukkan para niyaga tampak serius menjaga ritme tabuhan. Beberapa di antaranya terlihat duduk bersila di depan demung dan gambang, sementara lainnya memukul kendang dengan tempo pelan. Suasana khidmat menyelimuti halaman Masjid Gedhe Kauman.
Siluet para penabuh terlihat jelas saat memainkan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Panggonan Kidul. Cahaya lampu temaram dari dalam masjid menambah kesan sakral prosesi tahunan ini. Warga yang datang tampak duduk di serambi masjid, menikmati alunan gamelan sambil menunggu waktu salat.
Gamelan Sekaten merupakan salah satu warisan budaya yang masih lestari di Yogyakarta. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang ingin menyaksikan langsung perayaan Maulid dengan nuansa keraton.