Pencarian

Letusan Gunung di Indonesia Pernah Lahirkan Frankenstein dan Sepeda Modern

Selasa, 08 September 2026 • 11:22:01 WIB
Letusan Gunung di Indonesia Pernah Lahirkan Frankenstein dan Sepeda Modern
Letusan Gunung Tambora pada 1815 memicu penciptaan kisah Frankenstein dan cikal bakal sepeda modern.

DI YOGYAKARTA — Indonesia hidup di atas cincin api, dan setiap letusan gunung menyimpan cerita yang menjangkau jauh melampaui abu vulkanik. Dari catatan sejarah, dua letusan terbesar yang pernah tercatat justru memicu inovasi tak terduga: lahirlah sepeda modern dan kisah Frankenstein yang melegenda. Peristiwa itu terjadi berabad lalu, namun jejaknya masih terasa hingga kini.

Dari Abu Vulkanik Menjadi Kisah Monster dan Sepeda

Letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada April 1815 menjadi titik balik. Debu vulkanik yang menyelimuti atmosfer bumi menyebabkan "tahun tanpa musim panas" pada 1816 di Eropa dan Amerika Utara.

Cuaca ekstrem itu membuat sekelompok penulis yang berkumpul di Villa Diodati, Swiss, tak bisa keluar rumah. Saat itulah Mary Shelley menciptakan Frankenstein, kisah monster ikonik yang mengubah wajah sastra dunia. Letusan yang sama juga memicu kelangkaan gandum dan kuda, yang mendorong Karl Drais menciptakan laufmaschine—cikal bakal sepeda modern.

Lima Gunung Berstatus Waspada di Indonesia

Per Selasa (8/9) pukul 07.45 WIB, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lima gunung berstatus Level II atau Waspada. Mereka adalah Anak Krakatau di Lampung, Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Merapi di Yogyakarta, Semeru di Jawa Timur, dan Sinabung di Sumatera Utara.

Anak Krakatau menjadi perhatian utama karena letusannya melanda pusat perekonomian. Abu vulkanik yang mencapai Jakarta sempat membatasi aktivitas masyarakat dan menutup Bandara Soekarno-Hatta serta Halim Perdanakusuma. Kedua bandara kini telah beroperasi kembali melayani seluruh rute penerbangan.

Dampak Ekonomi Erupsi Masih Terbatas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai dampak ekonomi dari bencana alam ini belum terlalu signifikan. Efeknya hanya berlangsung dalam hitungan hari, tidak seperti letusan besar masa lalu yang mengubah iklim global selama bertahun-tahun.

Sejarah membuktikan bahwa gunung berapi Indonesia punya kekuatan untuk mengubah peradaban. Namun dengan sistem pemantauan modern dan kesiapsiagaan yang lebih baik, dampaknya kini bisa ditekan jauh lebih kecil dibanding dua abad silam.

Bagi traveler yang berencana mengunjungi kawasan gunung berapi, pantau terus status terbaru dari PVMBG dan Kementerian ESDM sebelum berangkat. Informasi terkini dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi dinas pariwisata setempat.

Follow jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks