YOGYAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti secara khusus menyoroti peran sentral kepala sekolah dan tenaga pendidik sebagai ujung tombak transformasi pendidikan nasional. Menurutnya, tanpa kontribusi aktif para guru di ruang kelas, program-program pemerintah tidak akan berjalan optimal.
Empat Infrastruktur Percepatan Transformasi Pendidikan
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah memperkuat transformasi melalui empat infrastruktur utama: fisik, pedagogis, budaya, dan hukum. Revitalisasi Satuan Pendidikan menjadi prioritas di sektor fisik, sementara Digitalisasi Pembelajaran diperluas melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP).
"Kalau kita baca dalam Undang-Undang Dasar 1945, tujuan didirikannya negara Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 31 menyebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran," ujar Mu'ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat.
Program Peningkatan Kesejahteraan dan Kompetensi Guru
Di aspek pedagogis, pemerintah menjalankan program beasiswa, peningkatan kesejahteraan, serta pelatihan kompetensi berkelanjutan. Penguatan karakter peserta didik juga digencarkan lewat program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Pagi Ceria, plus penguatan ekstrakurikuler.
Mu'ti menekankan bahwa penyempurnaan regulasi juga terus dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang merata dan berkualitas di seluruh daerah, termasuk DIY.
Mengapa Peran Guru Lebih Besar dari Menteri?
Dalam kesempatan itu, Mendikdasmen memberikan apresiasi tinggi kepada para pendidik. Ia menilai kontribusi mereka di lapangan jauh lebih besar dibanding peran birokrat di pusat.
"Peran bapak ibu lebih hebat dari peran saya. Karena yang hadir di kelas adalah bapak-bapak dan ibu-ibu. Yang bisa menginspirasi adalah bapak-bapak dan ibu-ibu. Yang bisa melahirkan menteri-menteri adalah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian," kata Mu'ti.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan bermutu sangat bergantung pada kualitas interaksi langsung antara guru dan murid di sekolah-sekolah, mulai dari perkotaan hingga pelosok desa di Yogyakarta.