DI YOGYAKARTA — Teknologi AI dalam industri film masih jadi perdebatan. Tiga pelaku industri kreatif yang hadir di puncak AI Content Fest 2026 memilih melihatnya sebagai alat pendukung, bukan ancaman. Acara yang digelar CapCut itu menghadirkan aktor Lukman Sardi, sutradara Mouly Surya, dan kreator Gustav Anandhita dalam satu sesi diskusi.
Ketiganya sepakat bahwa arah kreatif, rasa, dan keputusan akhir sebuah karya tetap berada di tangan manusia. AI diposisikan sebagai sarana memperluas eksplorasi dan memangkas waktu kerja yang repetitif.
AI Bantu Aktor Bangun Karakter
Dari sisi akting, Lukman Sardi melihat teknologi berguna untuk memperkaya proses persiapan dan eksplorasi karakter. Aktor yang tampil di series Joko Anwar "Nightmares and Daydreams" itu menyebut AI bisa membantu aktor menghimpun referensi dan memahami latar belakang tokoh sebelum syuting.
"Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan. Dengan proses persiapan yang lebih efisien, aktor punya lebih banyak ruang untuk fokus pada bagaimana karakter tersebut diinterpretasikan dan dihidupkan," ujar Lukman.
Efisiensi di tahap persiapan, menurutnya, memberi ruang lebih besar bagi aktor untuk mendalami interpretasi karakter. Bukan menggantikan proses akting itu sendiri.
Mouly Surya: AI Dukung Tahap Pengembangan hingga Produksi
Sutradara Mouly Surya menyoroti peran AI bagi produser dan sutradara sejak tahap pengembangan hingga produksi. Menurut sutradara "Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak" itu, teknologi memungkinkan pegiat seni mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi.
"Ketika sejumlah proses dapat dilakukan dengan lebih efisien, tim punya lebih banyak waktu untuk fokus pada visi besar karya dan keputusan-keputusan kreatif yang menentukan hasil akhirnya," kata Mouly.
Dari sisi kreator, Gustav Anandhita melihat AI sebagai sarana memperluas eksplorasi sekaligus mempercepat proses kreasi. Menurutnya, AI memberi ruang lebih banyak untuk bereksperimen, mulai dari mengembangkan ide, mencoba pendekatan visual, sampai melakukan iterasi lebih cepat.
"Efisiensi ini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan membawa sebuah ide lebih jauh, tanpa kehilangan arah kreatif yang ingin kita bangun," ucap Gustav.
Kolaborasi CapCut dan Raim Laode
Pemanfaatan AI dalam proses kreatif juga ditunjukkan lewat kolaborasi CapCut bersama musisi Raim Laode. Keduanya menggarap video musik untuk single terbaru "Dunia Yang Nanti" dengan melibatkan AI.
Video musik tersebut ditayangkan perdana pada acara puncak AI Content Fest 2026. Sesi itu dilanjutkan dengan berbagi cerita dari Raim soal proses kreatif di balik pembuatannya, sekaligus penampilan musik secara langsung.
Pengalaman CapCut Poster Lab untuk Pengunjung
Pengunjung yang hadir langsung di CGV Grand Indonesia bisa mencoba pengalaman berkreasi lewat CapCut Poster Lab. Fitur ini memungkinkan pengguna memilih genre atau suasana cerita, mulai dari horor, romansa, aksi, sci-fi, hingga dokumenter.
Dari pilihan itu, pengunjung dapat memanfaatkan fitur kreatif CapCut untuk membuat poster film bergaya sinematik yang bisa dipersonalisasi sesuai selera. Hasilnya diunduh melalui kode QR yang tersedia di lokasi.
AI Content Fest 2026 menempatkan AI sebagai bagian dari alur kerja kreatif, bukan pengganti peran manusia. Bagi pelaku industri film Indonesia, gelaran ini memperlihatkan bagaimana alat seperti CapCut dipakai dari tahap ide hingga produk jadi.