YOGYAKARTA — Gangguan saluran cerna masih menjadi keluhan yang sering dialami anak-anak di Indonesia, termasuk di DI Yogyakarta. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian konstipasi pada anak bisa mencapai lebih dari 30 persen, sementara Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan diare masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak menyerang anak.
"Berdasarkan data, satu dari lima anak mengalami gangguan pencernaan fungsional. Karena itu, kesehatan saluran cerna perlu dijaga sejak dini agar pertumbuhan anak berlangsung optimal," kata Melia dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Mekanisme yang menghubungkan saluran cerna dengan sistem imun dikenal sebagai gut–immune axis. Menurut Melia, keseimbangan mikrobiota usus berperan besar dalam memperkuat pertahanan alami tubuh anak. Jika keseimbangan ini terganggu, risiko infeksi dan gangguan pertumbuhan meningkat.
"Dengan membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini, seperti mengonsumsi makanan bergizi, tinggi serat, memenuhi kebutuhan mineral, serta didukung probiotik yang tepat, kesehatan saluran cerna dan daya tahan tubuh anak dapat terjaga," ujar Melia.
Product Executive PT Kalbe Farma Tbk Victorya Basule mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan memilih probiotik untuk anak. Menurutnya, tidak semua produk probiotik memiliki manfaat yang setara.
"Orang tua sebaiknya memilih probiotik yang telah didukung bukti klinis sehingga mampu membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan mendukung kesehatan saluran cerna anak secara optimal," kata Victorya.
Ia menambahkan bahwa pemenuhan nutrisi seimbang, kebiasaan hidup sehat, serta pemilihan probiotik yang tepat dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga kesehatan pencernaan sekaligus mendukung tumbuh kembang anak. Langkah ini dinilai krusial mengingat masa kanak-kanak merupakan periode emas pertumbuhan yang tidak boleh terhambat oleh gangguan pencernaan.