GUNUNGKIDUL — Musim kemarau tahun ini kembali memukul warga Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Ketua RT 06/RW 9, Sugiyanto, mengatakan wilayahnya sudah dua bulan terakhir kesulitan mendapatkan air bersih, dan beban ekonomi warga semakin berat karena harus membeli air dengan harga tinggi.
“Di sini kalau kemarau betul-betul kering tidak ada air,” kata Sugiyanto saat ditemui di lokasi, Kamis (30/7/2026).
Upaya mencari sumber air mandiri sudah dilakukan warga, termasuk pengeboran sumur hingga kedalaman 72 meter. Namun, hasilnya nihil dan tidak menemukan sumber air yang layak dimanfaatkan.
Akibatnya, warga bergantung pada pasokan mobil tangki. Air dari wilayah Giritirto dijual sekitar Rp150 ribu per tangki berkapasitas 5.000 liter, sedangkan air dari Imogiri, Bantul, dihargai Rp180 ribu per tangki karena kualitasnya lebih baik untuk dikonsumsi.
“Kalau yang diminum dari Imogiri karena tidak ada kapurnya. Sudah dua bulan terakhir warga mulai membeli air bersih, ada yang sudah dua kali, dan yang keluarganya besar ada yang sudah membeli lima kali,” ujarnya.
Sugiyanto menjelaskan, beban terberat dirasakan warga lanjut usia dan kurang mampu. Tidak sedikit dari mereka yang menjual ternak hasil tabungan panen musim hujan untuk membeli air bersih.
“Apalagi sudah tua, tidak punya penghasilan. Apa yang punya dijual, saat musim hujan dan dapat dari pertanian ditabung membeli kambing, nanti dijual saat musim kemarau,” katanya.
Warga Gebang lainnya, Darminto, menuturkan bantuan air bersih dari Kapanewon Panggang saat ini ditampung di bak penampungan dekat Telaga Mendak. Fasilitas itu sebelumnya dibangun pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dan dilengkapi sistem penyaringan air.
Namun, sistem penyaringan itu tidak pernah berfungsi karena debit air telaga terus menyusut. “Dulu tahun 80-an masih digunakan, tahun 1995-an airnya tidak awet dan sering habis,” kata Darminto.
Darminto mengungkapkan, warga kini menaruh harapan pada program penyediaan air bersih dari organisasi internasional yang tengah berjalan. Jaringan pipa menuju rumah warga sudah terpasang dan sedang memasuki tahap uji coba.
Air akan dialirkan dari sumber mata air di kawasan Wuluh Kumet menuju reservoir sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga. “Sudah ada sambungan ke rumah tapi baru uji coba. Mungkin kalau menunggu dari pemerintah masih tangeh lamun (entah kapan terealisasi),” ujarnya.
Lurah Girisuko, Jamin Paryanto, mengatakan persoalan kekeringan di wilayahnya mulai berkurang. Dua padukuhan sebelumnya telah menikmati layanan PDAM pada 2026, dan kini giliran Padukuhan Gebang mendapatkan bantuan jaringan air bersih dari pihak ketiga.
“Sudah ada bantuan dari pihak ketiga. Insya Allah tahun 2026 sudah ada bantuan sambungan air yang diambil dari sumber Wuluh Kumet, sumbernya air luar biasa bisa meng-cover Gebang bahkan lebih,” kata Jamin.
Panewu Panggang, Sustiwiningsih, menambahkan sebanyak sekitar 70 tangki air bersih telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau. Selain itu, pembangunan 525 sambungan rumah (SR) dilakukan melalui kerja sama dengan organisasi global.
“Untuk tahun depan Kalurahan Girisuko tidak masalah, 525 SR sudah terpenuhi kerja sama dengan organisasi,” ujarnya.
Dengan adanya jaringan air bersih tersebut, warga Gebang berharap tidak lagi bergantung pada air tangki maupun harus menjual ternak setiap kali musim kemarau datang.