DI YOGYAKARTA — Pembahasan tentang anak neurodivergent—termasuk autisme, ADHD, dan sensory processing disorder—sering kali didominasi suara dokter, psikolog, dan terapis. Padahal, orang tualah yang menemani anak setiap hari, begadang saat anak sakit, dan mendampingi mereka saat tantrum.
Atelier of Minds, lembaga yang fokus pada pendampingan keluarga neurodivergent, mencoba mengubah sudut pandang ini. Lewat survei terhadap 173 orang tua dari berbagai kota di Indonesia, mereka mendengarkan langsung pengalaman para pengasuh—dari momen pertama menyadari perbedaan pada anak, hingga perjuangan menghadapi stigma sosial dan finansial.
Temuan paling menonjol dari survei ini: 76% orang tua menjadi pihak pertama yang menyadari adanya perbedaan pada anak mereka. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding deteksi dari tenaga profesional mana pun.
Project Manager Atelier of Minds, Ardhini Hapsari, mengatakan temuan ini sekaligus meluruskan anggapan keliru yang selama ini beredar. "Ketika kondisi anak terlambat dikenali, orang tua terkadang justru dianggap kurang peka. Padahal, data membuktikan sebaliknya," ujarnya dalam Media Briefing di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Setelah menyadari perbedaan tersebut, orang tua umumnya mencari konfirmasi ke dokter anak, spesialis tumbuh kembang, psikolog, hingga terapis okupasi. Menurut Dhini, intuisi orang tua dan keahlian profesional bukanlah dua hal yang berlawanan—keduanya saling melengkapi.
Mengetahui anak memiliki kebutuhan khusus memicu perjalanan emosional yang kompleks. Survei ini menemukan emosi yang paling banyak dirasakan orang tua bukanlah kemarahan atau frustrasi, melainkan kekhawatiran mendalam tentang masa depan anak.
Perasaan ini diikuti rasa bersalah dan burnout. Hampir separuh responden juga mengaku bingung menentukan langkah setelah