Mahasiswa KIP-K UMBY Bagi Strategi Kelola Biaya Hidup: Catat Arus Keuangan hingga Aturan Jeda 7 Hari

Penulis: Galih Prayoga  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:21:01 WIB
Mahasiswa penerima KIP-K UMBY, Haninnaja Kevina Shenaya, memaparkan strategi pengelolaan biaya hidup dengan mencatat arus keuangan dan menerapkan aturan jeda tujuh hari sebelum membeli barang non-esensial.

YOGYAKARTA — Haninnaja Kevina Shenaya, mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UMBY, menyatakan penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) tetap harus cerdas dalam mengelola bantuan biaya hidup yang diterima. Menurut dia, anggapan umum bahwa beban terbesar ada pada SPP atau uang gedung ternyata meleset.

Pengeluaran terbesar justru berada pada kebutuhan operasional harian dan penunjang tugas perkuliahan. "Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan masih sangat bisa dikendalikan," kata Hanin di Yogyakarta, Sabtu.

Dua Strategi Kunci Menghindari Jebakan Finansial

Hanin menerapkan dua strategi utama agar keuangan bulanannya tetap sehat. Pertama, ia selalu mencatat arus keuangan menggunakan aplikasi di ponsel agar setiap transaksi terpantau. Kedua, ia menerapkan aturan jeda tujuh hari sebelum memutuskan membeli barang non-esensial.

"Kalau setelah seminggu keinginan membeli barang itu hilang, berarti barang itu memang tidak benar-benar dibutuhkan," ujarnya. Keinginan mengikuti tren di usia mahasiswa dianggap wajar, namun ia selalu mengingat batas dan prioritas kebutuhan utama.

Tekanan IPK Minimum Jadi Bahan Bakar Motivasi

Syarat mempertahankan beasiswa dengan IPK minimal 2,75 justru diubah Hanin menjadi motivasi untuk lebih disiplin dalam manajemen waktu belajar. Strategi ini membuahkan hasil dengan torehan IPK 3,88 di semester empat.

Di luar akademik, Hanin aktif mengikuti Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan lomba inovasi digital. Ia juga produktif mencari penghasilan tambahan yang sejalan dengan jurusannya dengan menjadi asisten dosen, sekaligus memperdalam materi kuliah.

"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," tuturnya.

Definisi Nyata Kemerdekaan Belajar

Hanin menilai definisi paling realistis dari merdeka keuangan pendidikan kuliah adalah ketika mahasiswa bisa fokus menuntut ilmu tanpa terhenti kendala biaya. Bantuan KIP-K yang membebaskannya dari tagihan SPP dan uang gedung disebutnya sebagai bentuk kemerdekaan belajar yang nyata.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa diukur dari karya dan pencapaian, bukan dari barang yang dipakai. Beasiswa bukan jalan pintas yang menanggung seluruh urusan hidup, tetap dibutuhkan perjuangan keras dan tanggung jawab mengelola biaya sehari-hari.

Pesan untuk Calon Mahasiswa yang Ragu

Bagi calon mahasiswa yang masih ragu melangkah karena kendala biaya, Hanin memberikan saran aplikatif untuk mulai bergerak dari sekarang. Ia mendorong agar rajin mencari informasi beasiswa, mengasah manajemen waktu, dan terus meng-upgrade kapasitas diri.

"Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," katanya. Ke depan, ia berharap dapat lulus dengan IPK memuaskan dan menerapkan ilmunya untuk masyarakat agar makin sedikit anak muda yang memendam mimpi kuliah hanya karena urusan biaya.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top