YOGYAKARTA — Percasi Kota Yogyakarta memasang target ambisius: menjadikan catur sebagai olahraga kedua terpopuler di lingkungan sekolah setelah sepak bola. Target itu dicanangkan menyusul pelantikan kepengurusan baru periode 2026-2030 yang digelar di Aula KONI DIY, Jalan Kenari 14 Semaki, Umbulharjo, Sabtu (16/8/2026).
Inung Nurzani resmi memimpin organisasi ini setelah terpilih sebagai calon tunggal dalam musyawarah kota pada 2 Mei lalu. Ia memperoleh dukungan dari 11 dari 16 klub catur yang memberikan suara.
Dalam sambutannya usai dilantik, Inung menegaskan bahwa Surat Keputusan yang diterimanya bukan sekadar formalitas. “Hari ini hingga empat tahun ke depan, kita bersama-sama mengabdi kepada catur Kota Yogyakarta,” ujarnya.
SK bernomor 003/KPTS/PERCASI DIY/KU/VI/2026 itu ditandatangani Ketua Pengda Percasi DIY, Iwan Prihastomo, dan Sekretaris Jumariyanto pada 8 Juni 2026.
Inung menyebut potensi besar catur di Kota Yogyakarta belum tergarap maksimal. Data yang dimilikinya mencatat ada 169 SD, 66 SMP, 48 SMA, dan 30 SMK di kota ini, belum termasuk puluhan kampus dan ratusan ribu anak muda.
“Saya belum bisa menyebut angka pasti. Tapi, jumlahnya sedikit. Penyebabnya, olahraga catur jalan di tempat. Klubnya itu-itu saja. Atletnya itu-itu saja. Padahal gudang emasnya ada di sekolah,” ungkapnya.
Kondisi itu menjadi dasar program prioritas Percasi Kota Yogyakarta: memasukkan catur ke dalam kurikulum sekolah. Pengurus baru berencana mendatangi kepala sekolah dan menurunkan pelatih ke jenjang SD, SMP, dan SMA.
Untuk menggerakkan kompetisi di level akar rumput, Percasi Kota Yogyakarta akan menggelar Liga Pelajar Kota Jogja setiap tiga bulan sekali. Target jangka menengahnya sederhana namun jelas: setiap sekolah di Yogyakarta memiliki ekstrakurikuler catur dalam empat tahun ke depan.
Inung berharap dukungan penuh dari KONI, Dispora, dan donatur untuk mewujudkan target tersebut. Ia juga mengajak klub dan pelatih untuk bergabung dengan Percasi Kota Yogyakarta.
“Kepada para orang tua, titipkan anak penjenengan kepada kami untuk berprestasi di olahraga catur,” kata Inung.
Ketua Bidang Sarpras dan Perlengkapan KONI Kota Yogyakarta, Mazda Siwi Haryanto, mendorong pengurus baru memperbanyak komunikasi dengan berbagai pihak. Menurutnya, catur bukan olahraga yang bisa dimainkan sembarangan.
“Karena di catur ini, nuwun sewu, orangnya cerdas-cerdas semua. Karena yang digerakkan itu barang mati semua. Kalau tidak punya kemampuan lebih, tidak mampu mengatur jalannya permainan catur,” kata Mazda.
Ia berharap pelantikan ini menjadi awal kesuksesan Percasi Kota Yogyakarta dalam mengembangkan olahraga catur di kota pelajar tersebut.