Pemerintah Malaysia menyatakan terus menjaga koordinasi erat dengan Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan yang kabut asapnya menyeberang ke wilayah Malaysia. Malaysia mengutus surat kepada menteri lingkungan RI dan telah berkomunikasi secara verbal, sementara operasi modifikasi cuaca berupa penyemaian awan di wilayah perbatasan kedua negara sudah dimulai.
JAKARTA — Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta Farzamie Sarkawi menyampaikan bahwa pihaknya telah berhubungan dengan pemerintah Indonesia melalui surat dan komunikasi verbal. Indonesia memberi persetujuan kepada Malaysia untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca berupa penyemaian awan di kawasan perbatasan.
"Usaha tersebut sudah dimulai di sana," kata Farzamie usai perayaan Hari Malaysia di Jakarta, Selasa malam.
Farzamie menjelaskan bahwa Menteri Lingkungan Malaysia telah mengutus surat kepada menteri lingkungan RI. Komunikasi verbal antara kedua pihak juga berjalan untuk memastikan penanganan karhutla berlangsung cepat.
Langkah di perbatasan itu diharapkan membantu memadamkan karhutla yang terjadi di Pulau Kalimantan. Kabut asap dari karhutla di Indonesia dilaporkan menerpa Sabah dan Sarawak di Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Filipina termasuk Ibu Kota Manila.
"Kami tentu berharap situasinya dapat segera pulih. Kami juga bersedia membantu kapanpun jika diminta," ucap Farzamie.
Pemerintah Malaysia pada 5 September sempat menyatakan darurat akibat kabut asap untuk seluruh wilayah Serian di negara bagian Sarawak yang berbatasan dengan Indonesia. Status darurat itu tak lama kemudian dicabut.
Farzamie juga membenarkan bahwa Malaysia terus berkoordinasi dengan Singapura selain Indonesia untuk memanfaatkan mekanisme ASEAN terkait karhutla. Namun ia mengingatkan langkah bersama ASEAN hanya dapat dilakukan apabila tercapai konsensus antara seluruh negara anggotanya.
Kementerian Luar Negeri RI memastikan Indonesia terus berkoordinasi dengan negara tetangga dan memanfaatkan mekanisme ASEAN yang ada untuk menanggulangi dampak karhutla di kawasan Asia Tenggara. Kerangka ASEAN yang dioptimalkan adalah Kesepakatan ASEAN tentang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Agreement on Transboundary Haze Pollution) yang ditandatangani pada 2002.
Koordinasi lintas negara ini menjadi kunci karena kabut asap tidak mengenal batas administratif. Warga di wilayah perbatasan Kalimantan–Sarawak dan Sabah menanggung dampak langsung kualitas udara yang memburuk.
Malaysia menyatakan siap membantu kapan pun diminta. Indonesia sendiri belum merinci jadwal lanjutan operasi modifikasi cuaca di perbatasan maupun langkah diplomatik berikutnya di tingkat ASEAN.