Pencarian

Dishub Yogyakarta Tata TKP Senopati untuk 200 Becak dan Andong

Senin, 04 Mei 2026 • 20:10:01 WIB
Dishub Yogyakarta Tata TKP Senopati untuk 200 Becak dan Andong

YOGYAKARTA — Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta resmi mengalihfungsikan sebagian area Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati sebagai pangkalan resmi moda transportasi tradisional. Penataan ini menyasar peningkatan layanan bagi wisatawan yang ingin menuju kawasan Jeron Beteng, Kraton, hingga Pasar Ngasem tanpa membebani kapasitas parkir di dalam benteng yang kian terbatas.

Lokasi yang sebelumnya didominasi bus pariwisata besar kini difokuskan untuk kendaraan pribadi, minibus Elf, serta titik jemput becak dan andong. Perubahan fungsi ini diharapkan menjadi simpul konektivitas baru yang lebih tertata di sisi timur pusat kota. Dishub memproyeksikan area ini sebagai gerbang masuk utama wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berkendara tradisional menyusuri sumbu filosofi.

Kapasitas Layanan Capai 200 Becak dan 60 Andong per Hari

Secara teknis, ruang parkir di TKP Senopati telah dipetakan untuk menampung 10 andong dan 30 becak secara statis dalam satu waktu. Namun, efektivitas pangkalan ini terletak pada sistem perputaran kendaraan yang diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan di lokasi.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menjelaskan bahwa dalam durasi operasional 12 jam, kapasitas harian pangkalan ini bisa jauh lebih besar. Estimasi perputaran moda transportasi ini diprediksi mampu melayani hingga 60 andong dan lebih dari 200 becak setiap harinya.

“Prinsipnya, kami siapkan tempatnya agar moda tradisional ini punya nilai lebih bagi wisatawan,” ujar Agus Arif Nugroho.

Pemetaan Titik Jemput dan Fasilitas Wisatawan di Senopati

Titik pemberhentian dan pangkalan ini telah dipetakan secara detail untuk menjaga kenyamanan pengguna jasa. Area utama disiapkan di sisi utara dan selatan toilet kaca bawah tanah, serta di antara area parkir tengah dan barat. Setiap titik dilengkapi dengan marka jalan yang jelas serta papan informasi bertuliskan “order here” untuk memudahkan pelancong.

Keberadaan pangkalan resmi ini sekaligus menjawab persoalan keterbatasan lahan parkir di dalam benteng. Dengan menjadikan TKP Senopati sebagai titik naik (drop zone), wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju objek wisata sejarah dengan lebih nyaman menggunakan angkutan tradisional.

Langkah ini juga menjadi strategi Pemkot Yogyakarta untuk mengurai kepadatan becak dan andong yang selama ini terkonsentrasi di kawasan Malioboro. Dengan memecah titik kumpul, arus lalu lintas di sumbu utama diharapkan menjadi lebih lancar dan tertib.

Penguatan Nuansa Budaya Melalui Seragam Lurik dan Estetika

Penataan tidak hanya menyentuh aspek transportasi dan infrastruktur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Yogyakarta. Nantinya, para kusir andong dan penarik becak yang beroperasi di pangkalan resmi ini diwajibkan mengenakan pakaian khas daerah, seperti lurik, untuk memberikan kesan autentik bagi wisatawan.

Dishub Kota Yogyakarta juga menjalin koordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) terkait pemeliharaan fasilitas. Fokus utama koordinasi ini meliputi pengelolaan kebersihan dan perawatan sarana pendukung di titik-titik mangkal agar tetap representatif sebagai wajah pariwisata daerah.

Integrasi antara manajemen transportasi, estetika petugas, dan kelayakan fasilitas umum ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing wisata Yogyakarta. Melalui pangkalan yang terorganisir, wisatawan mendapatkan kepastian layanan, sementara pengemudi moda tradisional mendapatkan ruang kerja yang lebih layak dan terlindungi.

Bagikan
Sumber: kabarnusa.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks