YOGYAKARTA — Kinerja ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatatkan tren impresif pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY melaporkan pertumbuhan ekonomi Bumi Mataram mencapai 5,84 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Capaian ini mengukuhkan posisi DIY sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Jawa. Jogja hanya berada di bawah Jawa Timur yang tumbuh 5,96 persen dan Jawa Tengah sebesar 5,89 persen. Sementara itu, provinsi tetangga seperti Jawa Barat (5,79 persen), DKI Jakarta (5,59 persen), dan Banten (5,64 persen) berada di bawah kinerja DIY.
Sektor Pariwisata dan Konsumsi Jadi Motor Utama
Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa geliat ekonomi di awal tahun ini didominasi oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Sektor yang berkaitan erat dengan industri pariwisata ini melonjak hingga 11,59 persen.
Selain pariwisata, sektor jasa lainnya tumbuh 10,34 persen dan sektor konstruksi naik 7,6 persen. Menurut Endang, lima sektor utama—pertanian, industri pengolahan, akomodasi, informasi-komunikasi, serta konstruksi—kini menguasai 53,6 persen struktur ekonomi DIY.
"Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi produksi dengan kontribusi sebesar 1,13 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi," ujar Endang dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026).
Mengapa Konsumsi Masyarakat Jogja Begitu Kuat?
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 60,91 persen. Namun, lonjakan paling signifikan justru terlihat pada konsumsi pemerintah yang meroket 20,08 persen, disusul oleh investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 7,35 persen.
Terdapat beberapa faktor kunci yang memicu derasnya perputaran uang di masyarakat selama tiga bulan pertama tahun ini:
- Momentum musiman Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan belanja ritel.
- Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang mendorong daya beli.
- Meningkatnya mobilitas wisatawan yang berkunjung ke destinasi unggulan di DIY.
- Akselerasi proyek infrastruktur dan investasi yang mulai berjalan di awal tahun.
Meski secara kuartalan (qtq) ekonomi Jogja hanya tumbuh 0,87 persen—menunjukkan perlambatan tipis dibanding akhir tahun lalu—BPS menilai ketahanan ekonomi daerah ini tetap solid. Hal ini didorong oleh ketergantungan yang kuat pada konsumsi domestik dan sektor jasa yang terus berkembang.
Optimisme Bank Indonesia dan Tantangan Global
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, memproyeksikan tren positif ini akan berlanjut sepanjang tahun. BI memperkirakan ekonomi Jogja akan tumbuh di kisaran 5,7 persen hingga 6,5 persen untuk keseluruhan tahun 2026.
Optimisme ini didasarkan pada penguatan konektivitas antarwilayah di kawasan Jogja-Solo-Semarang (Joglo-Semar) serta potensi kenaikan ekspor melalui kesepakatan IEU-CEPA.
"Di sisi lain, terdapat beberapa tantangan yang berasal dari perekonomian global maupun domestik yang perlu diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi DIY yang berkualitas dan berkesinambungan tetap terjaga," kata Sri Darmadi, Rabu (6/5/2026).
Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia kini fokus pada penguatan integrasi transportasi dan promosi pariwisata terpadu. Langkah diversifikasi produk ekspor juga terus dipacu untuk menarik minat investor baru ke Yogyakarta di tengah ketidakpastian pasar global.