Pencarian

23 Siswa SD di Bantul Diduga Keracunan Menu MBG, Dinkes Uji Sampel Makanan di Laboratorium

Selasa, 12 Mei 2026 • 15:10:41 WIB
23 Siswa SD di Bantul Diduga Keracunan Menu MBG, Dinkes Uji Sampel Makanan di Laboratorium
siswa SDN Kowang di Bantul diduga keracunan setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis.

BANTUL — Dugaan keracunan massal kembali menerpa lingkungan sekolah dasar di Kabupaten Bantul. Sebanyak 23 siswa SDN Kowang dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Insiden ini menambah catatan persoalan teknis dalam pelaksanaan program nasional tersebut di tingkat lapangan. Dinkes Bantul telah mengambil sampel makanan dari lokasi kejadian untuk diuji di laboratorium. Langkah ini bertujuan mengidentifikasi kontaminan atau bakteri penyebab gangguan kesehatan pada para siswa.

Langkah Dinkes: Uji Laboratorium dan Evaluasi

Dinkes belum merilis hasil uji laboratorium secara resmi. Namun, pengambilan sampel merupakan prosedur standar untuk memastikan menu MBG aman dikonsumsi atau mengandung zat berbahaya. Hasil uji ini akan menjadi dasar evaluasi bagi pihak sekolah dan penyelenggara program terhadap proses penyajian makanan.

Belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat mengenai jenis menu yang disajikan pada hari kejadian. Insiden ini memicu kekhawatiran orang tua siswa terhadap kualitas dan higienitas makanan anak-anak mereka.

MBG Dorong Ekonomi Lokal, Pengawasan Dipertanyakan

Di sisi lain, program MBG telah memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku usaha lokal. Kelompok Mina Ponggong Sejahtera di Padukuhan Ponggok 1, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, kini rutin menyuplai hasil panen ikan patin untuk kebutuhan dapur SPPG. Ikan patin tersebut diolah menjadi filet di pabrik sebelum didistribusikan sebagai bahan baku menu MBG.

“Hasil panen patin itu diproses di pabrik untuk dijadikan filet ikan. Filet itu untuk menyuplai kebutuhan pasar terutama bahan baku menu MBG. Selain itu juga diambil oleh tengkulak dan pasar tradisional,” kata Pandu Adiputra, pendamping budidaya Kelompok Mina Ponggong Sejahtera, Selasa (12/5/2026).

Kendala Lahan dan Pasokan Bibit Ikan Patin

Meski permintaan meningkat, pengembangan budidaya ikan patin di Bantul masih terkendala keterbatasan lahan kolam. Pandu menyebut kapasitas kolam yang ada saat ini belum ideal. Luas kolam hanya 15-17 meter persegi dengan kedalaman 1,5 meter, namun diisi hingga 8 ribu ekor bibit. Angka kematian atau survival rate mencapai 10 persen.

Bibit ikan patin masih didatangkan dari luar daerah, seperti Subang, Bogor, dan Bekasi di Jawa Barat. “Kebetulan untuk wilayah DIY dan Jateng, pemijahan patin belum terlalu familiar seperti lele atau nila. Jadi bibit masuk ke sini ukuran 3-4 cm di boks, lalu setelah ukurannya 5-7 cm baru masuk ke kolam besar,” ujar Pandu.

Dua Sisi Program MBG: Ekonomi Tumbuh, Keamanan Pangan Diuji

Kasus dugaan keracunan di SDN Kowang menjadi pengingat bahwa program MBG tidak hanya soal memenuhi angka kebutuhan gizi. Pengawasan rantai pasok dan pengolahan makanan juga krusial. Tanpa standar higienitas yang ketat, program yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak justru berpotensi menimbulkan risiko baru.

Dinkes Bantul diharapkan segera merilis hasil uji laboratorium agar publik mendapat kejelasan. Sementara itu, para pembudidaya lokal berharap insiden ini tidak mengganggu permintaan ikan patin yang mulai menggerakkan ekonomi warga.

Bagikan
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks