DI YOGYAKARTA — Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan pembiayaan jangka panjang yang telah disusun pemerintah di tengah volatilitas ekonomi global. Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tidak dalam posisi terdesak, tetapi justru memanfaatkan momentum fundamental ekonomi yang kokoh untuk memperluas akses pendanaan kompetitif.
Panda Bond sebagai Instrumen Diversifikasi
Salah satu agenda utama kunjungan adalah mempersiapkan penerbitan perdana obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond oleh pemerintah pusat. Instrumen ini dinilai strategis untuk memperluas basis investor di luar dolar AS dan memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (Local Currency Transaction/LCT).
“Indonesia tidak menunggu. Kami bergerak lebih awal dengan membangun fondasi pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangan pers KBRI Beijing. Ia menambahkan bahwa diversifikasi ini sekaligus mendorong pendalaman kerja sama keuangan antara Jakarta dan Beijing.
Fundamental Ekonomi Jadi Modal Negosiasi
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Purbaya menyampaikan bahwa rasio utang Indonesia tetap terkendali dan defisit anggaran berada dalam batas aman. Kondisi ini, menurutnya, menjadi modal untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan tanpa tekanan likuiditas jangka pendek.
“Kami datang ke Beijing bukan karena terdesak, tetapi karena Indonesia memiliki posisi yang kuat. Ketika fondasi ekonomi kokoh, kita punya ruang bertindak lebih strategis,” tegasnya.
Pemerintah juga mencatat minat investor terhadap surat berharga negara masih tinggi, mencerminkan kepercayaan pasar yang terjaga. Purbaya menyebut hal itu sebagai hasil dari disiplin fiskal dan reformasi kebijakan yang konsisten dalam satu dekade terakhir.
Kerja Sama di Forum Multilateral Diperkuat
Selain pembahasan teknis obligasi, kedua menteri keuangan sepakat memperkuat koordinasi di forum internasional seperti G20 Finance Track, APEC, dan ASEAN+3. Purbaya juga dijadwalkan bertemu dengan otoritas moneter Tiongkok, termasuk People’s Bank of China (PBOC), serta lembaga multilateral seperti AIIB dan SCO Development Bank.
Kunjungan ini berlangsung di tengah dinamika perang dagang dan suku bunga global yang masih fluktuatif. Pemerintah optimistis langkah proaktif ini akan memperkuat ketahanan fiskal Indonesia dalam jangka panjang.
“Di saat sebagian pihak memilih menunggu kepastian, Indonesia memilih menyiapkan masa depan,” tutup Purbaya.