DI YOGYAKARTA — Pembentukan IBMA menjadi tonggak baru setelah setahun Presiden Prabowo Subianto meluncurkan kegiatan usaha bullion atau layanan bank emas. Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini tercermin dari jumlah emas yang berhasil dihimpun, sekaligus menegaskan potensi besar ekosistem bullion nasional.
Dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo secara khusus mengapresiasi capaian ini. Menurutnya, bank emas merupakan terobosan strategis yang mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Mengapa Asosiasi Ini Penting bagi Masa Depan Emas Nasional
IBMA hadir bukan sekadar organisasi baru. Asosiasi ini dirancang menjadi platform strategis untuk mendorong pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan. Fokus kerjanya meliputi standardisasi industri, edukasi publik, serta penguatan ekosistem dari pertambangan hingga produk emas ritel.
Keanggotaan IBMA mencakup lintas sektor: perusahaan tambang emas, pengolahan bijih menjadi batangan, pedagang emas batangan, lembaga pembiayaan non-bank, hingga bank bullion. Dengan integrasi yang lebih cepat, hilirisasi emas diharapkan berakselerasi dan produk berbasis emas semakin beragam.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pembentukan IBMA menandai fase baru setelah fondasi regulasi dan kelembagaan berhasil dibangun.
"Indonesia memiliki potensi emas yang besar. Tantangan kita bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan emas tersebut dikelola di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. IBMA diharapkan menjadi katalis yang memperkuat kolaborasi industri sekaligus meningkatkan daya saing pasar bullion Indonesia," ujar Airlangga.
Target Indonesia Menjadi Pusat Bullion Asia Tenggara
Dengan keberadaan IBMA, Indonesia menargetkan posisi lebih kuat di pasar bullion regional. Selama ini, perdagangan emas batangan didominasi bursa global seperti London dan Singapura. Indonesia ingin mengubah arah itu.
Langkah ini juga memperkuat peran bank emas yang sudah berjalan. Pegadaian dan BSI menjadi dua institusi pertama yang mengelola layanan ini, dan jumlah emas yang mereka kelola menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen tersebut.
Ekosistem yang kini terbentuk diharapkan mampu menyaingi pusat perdagangan emas di kawasan. Dengan dukungan pelaku industri dari hulu ke hilir, Indonesia memiliki modal untuk menjadi pemain utama di Asia Tenggara, bukan sekadar pengekspor bahan mentah.
Ke depan, IBMA akan berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyusun kebijakan dan standar industri. Ini penting karena pasar bullion yang sehat membutuhkan regulasi yang jelas dan praktik bisnis yang transparan.
Kehadiran asosiasi ini menjawab kebutuhan industri akan satu suara dalam menghadapi tantangan global. Saat harga emas dunia bergejolak, pasar domestik yang kuat dan terorganisir bisa menjadi penyangga stabilitas.