YOGYAKARTA — Perhelatan tahunan Pencak Wisata Budaya ke-5 (PWB 5) tidak hanya menyuguhkan atraksi bela diri, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan pariwisata. Komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS) menyiapkan rangkaian acara selama tiga hari, mulai dari camp pencak silat di kawasan Turi, Sleman, hingga lomba koreografi anak di Taman Pintar yang memperebutkan Piala Sri Paduka KGPAA Paku Alam X.
Sabatan Pencak: Teknik Serangan yang Dikemas Jadi Pertunjukan Panggung
Puncak PWB 5 akan menampilkan pertunjukan yang disebut-sebut sebagai yang pertama di Indonesia, yakni Sabatan Pencak. Berbeda dari demonstrasi jurus pada umumnya, pertunjukan ini menggabungkan beberapa komunitas pencak silat dalam satu panggung kolaboratif.
"Kita akan menggelar sebuah gelaran yang ini mungkin belum ada di Indonesia, namanya Sabatan Pencak. Jadi itu nanti seperti apa, ya bisa dilihat di malam Minggunya. Kita akan tampilkan bagaimana Sabatan Pencak yang terdiri dari beberapa komunitas pencak silat dan kemudian kita jadikan sebuah pertunjukan," ungkap Suryo, perwakilan komunitas PAS.
Dalam tradisi pencak silat, sabatan merupakan teknik serangan atau pembelaan menggunakan lengan maupun kaki yang diayunkan melengkung menyerupai gerakan menyabet. Teknik ini mengandalkan momentum putaran tubuh untuk menghasilkan dorongan tenaga kuat guna memukul, menangkis, atau menjatuhkan lawan.
Diplomasi Budaya dan Pengakuan Global Pencak Silat
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menilai penyelenggaraan PWB 5 memiliki nilai strategis dalam menjaga marwah warisan budaya takbenda yang telah memperoleh pengakuan global. Ia menegaskan bahwa pelestarian pencak silat berkaitan erat dengan identitas bangsa.
"Melalui PWB 5, kita ingin menegaskan kembali kepada masyarakat luas, baik domestik maupun internasional, bahwa melestarikan Pencak Silat berarti mempertahankan pondasi moral dan kearifan lokal bangsa," ujar Dian Lakshmi Pratiwi, Rabu (24/8/2026).
Senada dengan itu, perwakilan PAS, Yosi, menyebut pencak silat bukan sekadar keterampilan fisik. Di dalamnya terkandung falsafah hidup yang relevan hingga kini.
"Pencak Silat adalah cermin jati diri Nusantara. Di dalamnya terkandung falsafah hidup: budi pekerti luhur, rasa hormat kepada sesama, keberanian membela kebenaran, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta," kata Yosi.
Bazaar UMKM dan Kegiatan Edukatif di Taman Pintar
Selain pertunjukan seni, penyelenggara juga menghadirkan Bazaar Pencak Silat di kawasan Malioboro/Taman Pintar. Kehadiran bazaar ini diarahkan untuk menggeliatkan sektor UMKM sekaligus memberikan kontribusi ekonomi nyata bagi para praktisi pencak silat tradisi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan lain yang dapat diikuti masyarakat meliputi lomba mewarnai, workshop, serta sarasehan kebudayaan di GIK UGM. Lomba koreografi anak di Taman Pintar menjadi salah satu agenda yang menyedot perhatian karena memperebutkan piala bergengsi dari Sri Paduka KGPAA Paku Alam X.
Penyelenggara berharap PWB 5 mampu menjadi ruang edukasi publik yang menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur. Melalui pendekatan pariwisata, pencak silat diharapkan tidak hanya dipandang sebagai olahraga tradisional, tetapi juga aset budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat perkotaan.