DI YOGYAKARTA — Gempa yang berpusat di wilayah Cianjur dan sekitarnya itu langsung dianalisis oleh para ahli. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), mengidentifikasi sumbernya dari segmen yang sebelumnya dikenal dengan nama Segmen Rajamandala.
"Gempa magnitudo M 4,3 yang mengguncang wilayah Kab Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya pada Selasa, 1 September 2026 pukul 17:53:11 WIB dipicu Ujung barat Segmen Sesar Cisokan," kata Daryono, Selasa (1/9).
Apa yang Diketahui tentang Sesar Cimandiri?
Sesar Cimandiri merupakan salah satu patahan aktif terpenting di Jawa Barat. Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Putri Natari Ratna, menyebut sistem sesar ini membentang dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.
Meski telah banyak diteliti, karakteristik pergerakannya belum cukup konklusif. BRIN disebut tengah melakukan penelitian lebih komprehensif untuk memahami pola dan perilaku sesar ini.
"Penelitian tentang Sesar Cimandiri sebenarnya sudah banyak dilakukan, namun hasilnya belum cukup konklusif. Karena itu, BRIN melakukan penelitian yang lebih komprehensif untuk memahami karakteristik dan pergerakan Sesar Cimandiri," ujar Putri, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (30/10).
Jejak Gempa Historis dan Segmen yang Teridentifikasi
Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada yang ditulis Muhammad Adis S W pada 2018 mencatat, Sesar Cimandiri adalah patahan aktif berorientasi timur laut–barat daya. Sesar ini telah memicu sejumlah gempa besar dalam sejarah, termasuk Gempa Pelabuhan Ratu (1900), Gempa Padalarang (1910), Gempa Conggeang (1948), Gempa Tanjungsari (1972), Gempa Cibadak (1973), Gempa Gandasoli (1982), dan Gempa Sukabumi (2001).
Penelitian yang sama mengidentifikasi beberapa segmen utama, antara lain segmen Pelabuhan Ratu–Citarik, Citarik–Cadasmalang, Ciceureum–Cirampo, Cirampo–Pangleseran, Pangleseran–Cibeber, Cibeber–Padalarang, serta Padalarang–Tangkuban Perahu.
"Yang dapat diamati sebagai lembah sungai yang berarah hampir timur-barat dan membelok ke arah timur laut mulai dari Cibeber ke arah timur," jelas Muhammad Adis S W.
Karakteristik Geologis Sesar Cimandiri
Secara geologis, Sesar Cimandiri terbentuk sejak orogenesis tahap II pada periode akhir Eosen Tengah. Hal ini diungkap dalam riset Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada 2017 oleh Iyan Haryanto dan kolega.
"Sesar ini terus aktif hingga menyebabkan terbentuknya tinggian purba (paleo hight) antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri," kata Iyan Haryanto.
Menurut riset tersebut, Sesar Cimandiri terdiri dari dua tipe pergerakan: sesar naik yang ditandai deformasi lipatan batuan umumnya tegak, serta sesar normal dengan gawir yang kemiringannya melebihi 50 derajat—bahkan nyaris vertikal di sejumlah lokasi.
Gempa Cianjur kali ini menjadi pengingat bahwa sistem sesar ini masih aktif. Pemantauan berkelanjutan dan riset detail mengenai segmen-segmennya diperlukan untuk memetakan risiko kegempaan di kawasan Jawa Barat.