JOGJA — Pembelian Pertalite di SPBU Jogokariyan, Jalan Parangtritis, Mantrijeron, Kota Jogja, tidak dibatasi maksimal 5 liter bagi setiap pengendara. Pembatasan itu hanya dikenakan pada motor yang diduga membeli secara berulang, sedangkan kuota penjualan harian SPBU ditetapkan 10 ton. Pengawas SPBU Jogokariyan, Akson Muhtohar, menjelaskan alokasi itu mengacu pada total penjualan per hari, bukan volume yang boleh dibeli konsumen.
“Kalau sekarang kan ada pembatasan kuota, terutama yang subsidi. Kita harus pandai-pandai mengatur supaya penjualan tidak lebih dari 10 ton dalam sehari,” ujarnya saat ditemui di SPBU Jogokariyan, Kamis (13/8/2026).
Penjualan Normal 8–9 Ton per Hari
Jatah 10 ton tidak selalu habis setiap hari. Dalam kondisi normal, penjualan Pertalite di SPBU Jogokariyan berada di kisaran 8–9 ton, paling tinggi 9,5 ton. Akson memastikan stok aman selama penjualan tidak melewati batas kuota.
Besaran alokasi tiap SPBU tidak sama. Pembagian kuota mempertimbangkan tingkat penjualan masing-masing sebelum kebijakan pembatasan diberlakukan. SPBU yang sebelumnya memiliki penjualan lebih tinggi mendapat jatah lebih besar.
Bedanya dengan SPBU di Sleman
Kondisi di Jogokariyan berbeda dengan salah satu SPBU di Mlati, Sleman, yang membatasi pembelian Pertalite untuk sepeda motor maksimal lima liter dalam sekali pengisian. Pertamina menyebut kebijakan itu inisiatif pengelola SPBU untuk mempercepat pergerakan antrean, mengingat kapasitas normal tangki motor hanya sekitar empat hingga lima liter.
Di SPBU Jogokariyan, pembatasan lima liter tidak diberlakukan kepada seluruh pengguna. Aturan tersebut hanya menyasar kendaraan yang membeli lebih dari sekali, seperti motor Thunder yang kerap dipakai untuk membeli Pertalite lalu menjualnya kembali. “Pengguna itu enggak ada pembatasan. Yang lima liter itu biasanya untuk pembeli yang pakai motor Thunder, karena bisa membeli lebih dari sekali. Mungkin beli, kemudian beli lagi,” jelas Akson.
Antrean Tidak Semata-mata karena Kenaikan Pertamax
Antrean panjang pembeli Pertalite di SPBU Jogokariyan bukan semata-mata dipicu meningkatnya harga Pertamax. Akson menilai antrean sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Penyebab utamanya adalah penerapan sistem barcode yang membuat proses pengisian lebih lama.
Untuk kendaraan roda dua, sistem barcode mulai berlaku 1 Agustus 2026. Sementara kendaraan roda empat sudah menggunakannya lebih dari setahun. Saat jaringan internet bermasalah, satu motor bisa memakan waktu lebih dari satu menit.
“Yang ngaruh itu pakai barcode. Kalau jaringannya jelek, bisa lama di satu motor, bahkan satu menit lebih. Kalau dulu tidak pakai barcode, prosesnya langsung,” katanya.
SPBU Jogokariyan sebenarnya telah menempatkan dua petugas untuk melayani pembelian Pertalite. Jumlah antrean yang masih banyak membuat penambahan petugas belum sepenuhnya menghilangkan antrean. Pengelola pun mengatur kendaraan agar antrean bergerak lebih tertib.