BANTUL — Angka inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa di Indonesia mencapai 84,40 persen, namun indeks literasinya hanya 61,76 persen. Artinya, mayoritas pelajar sudah menggunakan produk jasa keuangan seperti rekening tabungan atau layanan dompet digital, tapi belum sepenuhnya paham risiko dan manfaatnya.
Data tersebut disampaikan Kepala OJK DIY Eko Yunianto saat menghadiri pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 Kabupaten Bantul di Kantor Diskominfo Bantul, Senin. Ia menegaskan kesenjangan hampir 24 persen antara literasi dan inklusi ini harus segera ditutup, terutama di Bantul.
Program KEJAR: Satu Rekening Satu Pelajar
Salah satu program utama yang disiapkan OJK adalah Program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar). Program ini mendorong setiap pelajar memiliki rekening tabungan sebagai bagian dari gerakan menabung sejak dini. Dasar hukumnya adalah Peraturan Presiden Nomor 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif dan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2019 tentang Hari Indonesia Menabung.
Pemerintah Kabupaten Bantul telah menerbitkan Surat Edaran Nomor B900.1.12/00459/PPSDA tentang Optimalisasi Akses Keuangan dan Program Satu Rekening Satu Pelajar dalam rangka Hari Indonesia Menabung Tahun 2026. Program ini akan dijalankan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Bantul.
Pesan Gubernur DIY: Gemi, Nastiti, lan Ngati-ati
Dalam kesempatan itu, Eko juga menyampaikan kembali pesan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Masyarakat diminta menerapkan prinsip Gemi, Nastiti, lan Ngati-ati sebagai pedoman mengelola keuangan.
"Artinya masyarakat diharapkan selalu hidup hemat dan sederhana, serta teliti, cermat, dan waspada dalam mengelola keuangan," kata Eko.
Mengapa Literasi Keuangan Pelajar Penting?
Hasil SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sementara inklusi keuangan 80,51 persen. Namun, indeks literasi pelajar dan mahasiswa justru lebih rendah dari rata-rata nasional, yakni 61,76 persen. Padahal, inklusi mereka lebih tinggi dari rata-rata, mencapai 84,40 persen.
Kondisi ini mengindikasikan banyak pelajar yang sudah terpapar produk keuangan—seperti pinjaman online, kartu kredit, atau investasi—tanpa pemahaman yang memadai. Risiko seperti jeratan utang atau penipuan investasi mengintai jika literasi tidak dikejar.
OJK DIY berkomitmen mendukung program-program literasi di Bantul dan daerah lain di DIY. "Kami akan mendukung melalui beberapa program yang akan dilaksanakan di Bantul," ujar Eko.