DI YOGYAKARTA — Data pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 08.10 WIB menempatkan Jakarta di bawah Kampala, Uganda (186), Kuching, Malaysia (174), dan Lahore, Pakistan (171). Doha, Qatar, melengkapi posisi kelima dengan angka 164. Padahal, di dalam Gedung Nusantara, para pimpinan lembaga negara tengah menggelar agenda tahunan kenegaraan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia.
Pada rentang AQI 151-200, kelompok manusia yang sensitif dan hewan berisiko mengalami gangguan kesehatan. Paparan polutan halus PM2.5 yang masuk ke saluran pernapasan dapat memicu iritasi mata, batuk, hingga memperberat penyakit asma dan jantung.
IQAir merekomendasikan warga yang tetap beraktivitas di luar gedung untuk mengenakan masker. Menutup jendela rumah dan menyalakan penyaring udara (air purifier) menjadi langkah mitigasi yang disarankan untuk mengurangi partikel berbahaya di dalam ruangan.
Pemerintah Provinsi Jakarta menyatakan telah menyiapkan tiga strategi utama untuk menekan laju polusi. Perluasan layanan bus Transjabodetabek menjadi garda terdepan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi di jalan raya. Rute baru yang tengah disiapkan mencakup Blok M–Alam Sutera, Blok M–PIK 2, serta rencana pembukaan jalur Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengajak warga memanfaatkan transportasi publik yang tersedia. Pemprov juga memberlakukan layanan bus gratis bagi 15 golongan masyarakat tertentu sebagai insentif peralihan moda transportasi.
Di sektor lain, percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah intermediate treatment facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini. Pengelolaan sampah yang lebih baik diharapkan mengurangi emisi metana dari pembakaran terbuka dan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kualitas udara yang buruk kerap menjadi sorotan ketika Jakarta menjadi tuan rumah agenda internasional maupun nasional. Namun, data pagi ini menunjukkan persoalan ini tetap akut meski bukan musim kemarau puncak.
Kategori kualitas udara yang dirilis IQAir merinci lima level: baik (0-50), tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia; sedang (51-100), berpengaruh pada tumbuhan sensitif; tidak sehat (101-200); sangat tidak sehat (201-299); dan berbahaya (300-500). Dengan angka 170, Jakarta berada di level tidak sehat yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kebijakan.
Persoalan ini menjadi ironi tersendiri di tengah perayaan hari kemerdekaan yang mengusung semangat pembangunan, sementara warga ibu kota harus berhadapan dengan udara yang tidak layak hirup secara aman. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait langkah darurat penanganan polusi pada hari ini.