DI YOGYAKARTA — Paus Leo XIV secara resmi menerbitkan ensiklik pertamanya pada Senin (15/4) yang secara khusus membahas risiko dan manfaat kecerdasan buatan. Dokumen setebal 42.300 kata dalam versi bahasa Inggris ini menjadi pernyataan resmi Gereja Katolik terkait perkembangan teknologi yang paling komprehensif dalam sejarah modern.
AI Bukan Cerminan Manusia
Dalam dokumen yang ditulis bersama Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic, Paus Leo menolak keras anggapan bahwa AI setara dengan kecerdasan manusia. "Kesalahpahaman terjadi ketika orang menyamakan jenis 'kecerdasan' ini dengan kecerdasan manusia," tulisnya.
Paus menjelaskan bahwa sistem AI hanya meniru fungsi tertentu dari kecerdasan manusia. "Mereka tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka atau duka, tidak dewasa melalui hubungan, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, pekerjaan, persahabatan, atau tanggung jawab," ujarnya.
Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa AI tidak memiliki hati nurani moral. "Mereka tidak menilai baik dan buruk, tidak memahami makna akhir dari situasi, dan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi," tambahnya.
Risiko Konsentrasi Kekayaan dan Pekerjaan
Paus Leo menyoroti bahwa kekayaan sudah terkonsentrasi di tangan segelintir orang dan AI berpotensi memperparah situasi. Ia mendesak pemerintah untuk "menetapkan alat regulasi yang memadai yang mampu menegakkan keadilan dan mengekang efek distorsi dari kekuatan teknologi."
Dampak AI terhadap lapangan kerja juga menjadi perhatian utama. Paus memperingatkan bahwa teknologi ini tidak boleh digunakan untuk membenarkan pemecatan sistematis. Ia mendorong program pelatihan ulang dan perlindungan ketenagakerjaan bagi pekerja yang terancam posisinya karena otomatisasi.
Regulasi untuk Senjata dan Konten Berbahaya
Dalam bagian yang paling tegas, Paus menyatakan bahwa pemimpin dunia harus memastikan manusia, bukan AI, yang membuat semua keputusan terkait senjata di masa depan. Ini menjadi seruan langsung untuk menjaga kendali manusia atas sistem persenjataan otonom.
Paus juga menyerukan "aliansi pendidikan untuk era digital" yang mendorong generasi muda berpikir kritis tentang AI. Regulasi, menurutnya, harus melindungi anak-anak dari konten kekerasan atau degradatif yang dihasilkan AI, termasuk eksploitasi seksual.
Sikap Terbuka terhadap Manfaat AI
Meski kritis, Paus Leo tidak memandang AI sebagai kekuatan yang antagonis terhadap kemanusiaan. "Jika dikelola dengan hati-hati, AI bisa membuka cakrawala yang meluas ke segala arah," tulisnya.
Vatikan sendiri telah menunjukkan keterbukaan terhadap teknologi ini. Pada Februari 2026, Vatikan bekerja sama dengan penyedia layanan bahasa Translated untuk menawarkan terjemahan langsung bertenaga AI kepada jemaat Misa Kudus.
Fakta Singkat Ensiklik AI Paus Leo XIV
- Panjang dokumen: 42.300 kata dalam versi bahasa Inggris
- Penulis bersama: Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic
- Tradisi: Ensiklik pertama Paus Leo XIV, tradisi Gereja Katolik berusia hampir 400 tahun
- Isu utama: konsentrasi kekuasaan, kehilangan pekerjaan, senjata otonom, konten berbahaya
- Sikap: kritis terhadap penyamaan AI dengan manusia, namun terbuka pada manfaat yang dikelola
Bagi pengguna teknologi di Indonesia, pernyataan ini relevan mengingat adopsi AI yang semakin masif di berbagai sektor — dari layanan keuangan hingga platform konten. Regulasi yang disebut Paus Leo menjadi pengingat bahwa kebijakan AI tidak hanya soal kecepatan komputasi, tapi juga soal keadilan sosial dan martabat manusia.