JAKARTA — Pergerakan rupiah di pasar spot pagi ini berbalik arah setelah sehari sebelumnya ditutup melemah. Berdasarkan data perdagangan, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.798 per dolar AS, membaik dibandingkan penutupan Senin (17/8) yang berada di level Rp17.827.
Penguatan tipis ini terjadi di tengah sentimen eksternal yang mulai mereda. Pelaku pasar merespons positif rilis data indeks harga produsen Amerika Serikat yang berada di bawah estimasi analis, sehingga menahan laju dolar di pasar Asia.
Data PPI AS Jadi Katalis Utama Penguatan
Ekonom menilai data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan menjadi faktor dominan yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Angka tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS akan lebih longgar dalam mempertahankan suku bunga tinggi.
Sebelumnya, pergerakan rupiah sempat tertekan oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Kamis (13/8), mata uang Garuda melemah 2 poin ke level Rp17.879 akibat kekhawatiran eskalasi konflik yang memicu aksi lari ke aset aman.
Fundamental Domestik Mulai Tampak
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri juga turut menopang mata uang rupiah. Data cadangan devisa Indonesia yang relatif kuat dinilai mampu menjadi bantalan bagi stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimistis turut memberikan angin segar bagi investor. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga, sehingga menarik minat masuknya modal asing ke instrumen berdenominasi rupiah.
Sepanjang pekan ini, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS lanjutan serta perkembangan situasi geopolitik. Pelaku pasar disarankan mencermati potensi volatilitas yang tetap tinggi di sisa sesi perdagangan.