Pencarian

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Tridarma Perguruan Tinggi, Sultan: Ilmu Harus Pulang ke Nilai

Jumat, 21 Agustus 2026 • 10:44:31 WIB
Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Tridarma Perguruan Tinggi, Sultan: Ilmu Harus Pulang ke Nilai
Pendidikan Khas Kejogjaan resmi masuk dalam tridarma perguruan tinggi se-DIY melalui kerja sama Pemda DIY dan LLDikti Wilayah V.

YOGYAKARTA — Materi Pendidikan Khas Kejogjaan kini resmi menjadi bagian dari ruang kuliah, penelitian, dan pengabdian masyarakat di seluruh perguruan tinggi se-DIY. Langkah ini merupakan buah kerja sama antara Pemda DIY dan LLDikti Wilayah V yang diumumkan dalam acara peluncuran di UNY, Kamis.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyebut gagasan ini telah dirawat lama oleh Dewan Pendidikan DIY. Tujuannya, agar kekhasan Yogyakarta mampu berbicara kepada sistem pendidikan nasional—bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai kontribusi.

Tiga Ruang yang Harus Dipertemukan: Kraton, Kampus, dan Kampung

Sri Sultan menjelaskan, Pendidikan Khas Kejogjaan bertumpu pada tiga ruang yang mesti terus dipertemukan. Kraton menghadirkan horizon nilai, kampus menghadirkan daya kritis berbasis pengetahuan, sedangkan kampung menghadirkan kenyataan hidup tempat nilai dan ilmu memperoleh pembuktiannya.

"Ilmu modern akan semakin kuat, apabila memiliki kerendahan hati, untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan," kata Sultan dalam sambutannya.

Sebaliknya, pengetahuan lokal akan semakin relevan apabila diberi ruang untuk diuji dan disambungkan dengan kebutuhan zaman. Menurut Sultan, itulah makna berakar pada budaya, berwawasan Indonesia.

Menjawab Tantangan Kecerdasan Artifisial dengan Watak Satriya

Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial dan otomasi pengetahuan, Sultan mengingatkan bahwa teknologi hanya alat. Manusialah yang menentukan untuk apa kemajuan itu digunakan.

"Dalam watak satriya, kita mengenal sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Nilai-nilai itu bukan hanya tuntunan bagi perseorangan. Perguruan tinggi pun memerlukan 'sawiji' dalam menjaga mutu, 'greget' untuk terus berinovasi, 'sengguh' untuk berdiri percaya diri di hadapan dunia, dan 'ora mingkuh' dalam memikul tanggung jawab sosialnya," ujarnya.

Bukan Sekadar Pelengkap Identitas Daerah

Sri Sultan menegaskan, Yogyakarta tidak sedang menutup diri dalam lokalitas. Justru sebaliknya, daerah ini menawarkan model tentang bagaimana nilai lokal dapat menjadi sumber inovasi bagi kebijakan pendidikan tinggi nasional.

"Pendidikan Khas Kejogjaan tidak bertentangan dengan kemajuan, namun justru memastikan agar kemajuan ilmu dan teknologi tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia," kata Sultan.

Ia menambahkan, ilmu yang tidak pernah pulang kepada nilai, cepat atau lambat akan kehilangan arah untuk apa ia bekerja. Karena itu, Sultan mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan program ini sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya.

"Semoga dari Yogyakarta lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku. Ikhtiar ini menjadi sumbangsih DIY bagi Indonesia, pendidikan yang memerdekakan, membudayakan, dan menyejahterakan," tutupnya.

Follow jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks