DI YOGYAKARTA — Rekaman video dan foto aliran air membelah bentangan gurun Madinah membanjiri media sosial pekan ini. Beberapa warganet menghubungkan fenomena ini dengan hadis tentang Jazirah Arab yang kembali menjadi padang rumput dan sungai sebagai tanda akhir zaman. Namun, para ahli menegaskan peristiwa ini merupakan bagian normal dari siklus cuaca kawasan gurun.
Mengapa Aliran Sungai Bisa Muncul di Gurun?
Kunci fenomena ini terletak pada kemampuan tanah menyerap air atau infiltrasi. Ketika hujan turun lebih cepat daripada kapasitas tanah menyerapnya, air berubah menjadi limpasan permukaan yang bergerak mengikuti kemiringan menuju area lebih rendah.
Gurun ternyata memiliki sistem drainase alami bernama wadi—lembah atau saluran yang biasanya kering. Intensitas hujan tinggi di Madinah membuat wadi-wadi ini terisi penuh, membentuk aliran yang menyerupai sungai dalam hitungan jam. Cekungan alami turut menampung volume air besar hingga sebagian kawasan tergenang banjir.
Fakta Curah Hujan di Madinah
National Center for Meteorology Arab Saudi telah mengeluarkan peringatan potensi badai petir disertai hujan es di beberapa wilayah, termasuk Madinah, Makkah, dan Asir. Intensitas tertinggi tercatat pada Jumat (28/8) dengan durasi hujan deras berlangsung 15–30 menit sebelum melemah menjelang matahari terbenam.
Jawaher Shaheen, pengemudi kendaraan off-road yang mengunjungi sejumlah lokasi terdampak, menuturkan perjalanan sekitar satu jam dari pusat kota menuju Al-Furaish memperlihatkan banjir mulai mengalir. "Lokasi kedua adalah Al-Furaish, tempat hujan turun lebih deras. Karena intensitasnya, air banjir mulai mengalir," ujarnya.
Benarkah Gurun Madinah Akan Menghijau?
Hujan membawa kelembapan yang tersimpan di tanah dan berpotensi dimanfaatkan tumbuhan. Namun, perubahan vegetasi gurun tidak terjadi otomatis. Faktor penentu meliputi distribusi hujan, kondisi tanah, serta keberadaan benih yang mampu bertahan di lingkungan kering.
Peristiwa ini lebih tepat diposisikan sebagai variabilitas cuaca, bukan bukti pergeseran iklim Madinah menjadi wilayah basah. Periode hujan yang lebih konsisten justru baru diprediksi terjadi sekitar pertengahan Oktober.
Apa Peran Bintang Suhail?
Fenomena ini turut dikaitkan dengan kemunculan bintang Suhail yang secara tradisional menjadi penanda perubahan musim bagi masyarakat Arab. Majed Al-Sahoubi, spesialis astronomi yang mempelajari hubungan bintang dan cuaca, menegaskan Suhail murni sebagai penanda waktu.
"Suhail merupakan tanda bahwa kondisi mulai membaik, tetapi bintang itu sendiri tidak memengaruhi atau mengubah cuaca," jelasnya. Curah hujan di kawasan gurun pada periode ini memang umumnya tidak teratur, sehingga kemunculan Suhail hanya menjadi penanda musim tanpa dampak meteorologis langsung.
Peristiwa hidrologi ekstrem di kawasan gurun semacam ini berpotensi terulang mengingat pola hujan yang tidak menentu. Bagi pelaku industri dan wisatawan yang beraktivitas di Arab Saudi, pemantauan peringatan cuaca dari otoritas setempat menjadi langkah mitigasi paling efektif.