Pemerintah pusat dan daerah resmi mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Mulyodadi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai upaya memperkuat ketangguhan warga menghadapi potensi bencana. Pengukuhan ini melibatkan 40 pengurus serta 12 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan diharapkan menjadi motor penggerak kesiapsiagaan di tingkat akar rumput.
BANTUL — Kampung Siaga Bencana (KSB) Mulyodadi resmi dikukuhkan sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengukuhan ini melibatkan 40 pengurus dan 12 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang akan bertugas aktif di lingkungan kampung.
Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanto menegaskan bahwa pengukuhan ini bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari kerja panjang membangun ketangguhan warga. Menurutnya, keberadaan KSB harus dihidupkan melalui berbagai kegiatan nyata, bukan sekadar seremoni.
"Keberadaan KSB Mulyodadi harus terus dikembangkan dan tidak berhenti pada momentum pengukuhan," kata Aris di Bantul, Sabtu.
Gardu Sosial dan Lumbung Sosial Jadi Kunci Kesiapan Darurat
Aris meminta perangkat pendukung seperti Gardu Sosial dan Lumbung Sosial dioptimalkan pengelolaannya agar benar-benar bermanfaat saat keadaan darurat terjadi. Fasilitas ini dinilai krusial sebagai pusat logistik dan informasi ketika bencana melanda.
"Keterlibatan aktif masyarakat menjadi salah satu kunci dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana," ujarnya.
Ia mengakui bahwa bencana tidak dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya masih bisa diminimalkan dengan persiapan yang matang. Menurut Aris, pengurangan risiko ini harus dimulai dari unit terkecil di masyarakat, yakni kampung.
"Kita dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapinya," katanya.
Pelatihan dan Simulasi Berkelanjutan untuk Asah Koordinasi
Pengukuhan KSB, lanjut Aris, merupakan langkah penting yang harus terus dihidupkan melalui pelatihan dan simulasi secara berkala. Kegiatan semacam ini diperlukan agar koordinasi antarwarga dan aparat dalam menghadapi bencana semakin terasah.
Direktur Jenderal Perlindungan Sosial Kementerian Sosial Agus Zaenal Arifin menyebut KSB sebagai bagian dari strategi membangun ketangguhan dari titik terdekat dengan warga. Menurutnya, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kapasitas yang memadai untuk sigap menghadapi bencana di lingkungannya.
"Masyarakat harus memiliki pengetahuan, kapasitas, dan kesiapan untuk menghadapi bencana di lingkungannya," katanya dalam keterangan tertulis.
Pengukuhan KSB Mulyodadi ini melibatkan Kementerian Sosial, Kemenko PMK, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Kolaborasi lintas instansi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana menjadi prioritas bersama yang membutuhkan sinergi dari tingkat pusat hingga kampung.